Tag Archives: India

Arijit Singh

Sumber: timesofindia.indiatimes.com---Arijit Singh

Sumber: timesofindia.indiatimes.com—Arijit Singh

Mendadak ngefans sama orang ini sejak ngedengerin suaranya di lagu Tum Hi Ho. Suaranya soulful abis. Keren… Nama Arijit Singh di dunia playback singer India memang belum setenar Udit Narayan, Sonu Nigam atau KK. Tapi kemampuannya sebagai playback singer juga enggak kalah kok dari mereka bertiga. Arijit Singh dikenal karena suaranya yang super soulful. Namun Arijit mampu melantunkan segala jenis genre lagu mulai dari pop, electronic, sampai rock.

Arijit Singh lahir di Murshidabad, Bengala Barat, 25 April 1987. Namanya mulai tenar setelah dia menyanyilkan lagu Tum Hi Ho untuk soundtrack film Aashiqui 2. Sebelumnya Arijit Singh pernah berpartisipasi dalam reality show Fame Gurukul pada tahun 2005 dimana ia gagal mencapai final. Arijit menikah dengan Koel Roy, kawan masa kecilnya pada tanggal 20 Januari 2014 di Bengala Barat. Video di atas yang menampilkan 15 lagu terbaik Arijit Singh, yang menjadi favorit saya adalah Tum Hi Ho, Phir Mohabbat (soundtrack film Murder 2 yang dibintangi Jacqueline Fernandez dan Emraan Hashmi), dan Duaa (soundtrack film thriller Shanghai yang dibintangi Kalki Koechlin dan Emraan Hashmi). Di lagu Phir Mohabbat ada suara gesekan biola yang sangat merdu yang awalnya saya kira suara perempuan, tapi setelah saya dengar baik-baik ternyata suara biola. Keren abis. Tapi jujur saya masih ragu-ragu apa itu memang suara biola karena mungkin bisa saja itu suara biola yang dicampur dengan suara perempuan. Waktu saya men-googling nama Arijit Singh, enggak begitu banyak informasi yang bisa saya dapatkan tentang Arijit karena Arijit rupanya adalah playback singer pendatang baru di India. Tapi meskipun pendatang baru saya langsung jatuh cinta sama suara soulfulnya Arijit. Di laman fanpage-nya di facebook, Arijit memiliki lebih dari 7 juta fans. Arijit Singh pernah mendapatkan penghargaan Filmfare dan IIFA (International Indian Film Award) kategori playback singer pria terbaik berkat lagu Tum Hi Ho.

Why Mahabharata Star Plus Is Funny

This is my second article on this blog that contains criticism of the Mahabharata Star Plus series.

In last September, a new Mahabharata serial made ​​by Star Plus launched its first episode. Just a few months running in India, ANTV, a TV stations from Indonesia ‘rented’ the Mahabharata Star Plus serial and broadcasted it in Indonesia. Mahabharata Star Plus got a very rousing welcome in Indonesia and the series is dubbed in Indonesian. In India, currently the Mahabharata Star Plus has reached over 200 episodes while in Indonesia it has recently reached over 100 episodes. Many Mahabharata fans from Indonesia liked to watch on YouTube through the Star Plus official channel as the portion of Mahabharata airtime in ANTV is just half an hour (even less) and the Indonesian fans tried to keep abreast of the latest episode of the Mahabharata in India. In India, the current serial Mahabharata has reached its climax—the war. While in Indonesia, the Mahabharata episode is still up in the story of Pandavas’ struggle to build kingdom in Khandavprastha forest.

I usually stay tune every day and watch the latest episodes of Mahabharata serial in Star Plus’ YouTube channel. But I heard a rumor said that Mahabharata serial will soon be finished. I once read an article on the website about the last episodes of Mahabharata Star Plus serial, in the article mentioned that one source close to Star Plus declared an end to the serial Mahabharata after they filming a few episodes after the Mahabharata war ended. I’m sure many fans of the series Mahabharata—including me, felt very surprised and disappointed by this news. Moreover, this new rumor is heard when the serial Mahabharata has reached its climax, the war. Kurukshetra War is the essence of the whole story of the Mahabharata and I think Star Plus was too cruel to decide to ‘abort’ or reduce the portion of war in Mahabharata serial. Moreover, after the Mahabharata war ended, there are still old days stories of the Pandavas and Pandavas and Draupadi trip to the Himalayas, also the story of the birth of Parikshit who will be the next successor to the throne of Hastinapura after Yudhisthira. As a big fan of the Mahabharata I was not willing if Mahabharata serial have to end in war alone.

Source: wayangku.wordpress.com

Source: wayangku.wordpress.com—Parikshit (wayang form)

Mahabharata Star Plus for me was very funny because only with duration of half an hour each time slot, so many episodes that contain very poor interpretation and useless dialogues and scenes and when it came time for war episodes, the Mahabharata Star Plus cut out a lot of important parts of the story of the Mahabharata war. I am sure, the story of the death of Ghatotkacha in the Mahabharata war requires more episodes than the story of Draupadi swayamvar. In Kurukshetra war there is absolutely no action scenes are really atrocious, that there are only silly and pathetic dialogues and scenes that should not exist in a battle scene. Somehow Mahabharata Star Plus looks like a soap opera for me.

maxresdefault

Mahabharata war in seashore desert. Nonsense.

Pemerkosaan di India

stop_rape

Sumber: uncyclopedia.wikia.com

Aksi pemerkosaan wanita di India merupakan salah satu aksi pemerkosaan paling brutal di dunia. Kenapa saya katakan demikian? Kebanyakan kasus pemerkosaan di India dilakukan secara massal dan berujung oleh berbagai aktivitas kriminal seperti penculikan dan perampokan. Masih ingatkah Anda dengan kasus pemerkosaan massal di Delhi pada tahun 2012? Kasus yang mengerikan tersebut sampai sekarang masih menjadi perhatian banyak pihak. Kasus bermula ketika seorang gadis bernama Nirbhaya dan teman laki-lakinya pulang dari menonton film pada sore hari. Mereka menaiki bus yang telah dibajak pada perjalanan pulang dan mereka tidak menyadari bahwa bus tersebut telah dibajak. Nirbhaya lalu diperkosa oleh sekelompok pria, gadis malang itu dipukuli dan disiksa dengan brutal hingga gadis itu mengalami kerusakan otak dan pencernaan. Nirbhaya kemudian meninggal setelah menjalani perawatan medis di sebuah rumah sakit di Singapura tepat 13 hari setelah aksi pemerkosaan brutal yang dialaminya.

Kasus-kasus pemerkosaan di India masih sangat marak terjadi dan tidak hanya menimpa gadis-gadis remaja, namun juga balita-balita perempuan dan lansia. Seringkali kasus-kasus pemerkosaan di India juga melibatkan tindak-tindak kekerasan seperti pemukulan, penganiayaan, dan pembunuhan. Sebagian kecil penyebab masih maraknya kasus pemerkosaan di India adalah buruknya sistem penegakan hukum, kurangnya bantuan medis bagi para korban pemerkosaan, dan ketidak-becusan aparat keamanan (polisi) dalam menangani kasus. Mari kita bahas hal-hal tersebut dalam uraian berikut ini.

Polisi dan Mobil Polisi

Seorang gadis berusia 20 tahun pulang dari kantornya bersama 3 orang temannya. Gadis itu lalu tiba-tiba diculik oleh sekelompok laki-laki mabuk di dalam mobil dan gadis itu diperkosa. Beberapa hari kemudian, orang tua gadis itu dipanggil ke sebuah rumah sakit dan mereka diminta mengidentifikasi mayat putri mereka. Mayat gadis itu ditemukan dengan sangat mengenaskan. Terdapat luka paku di tubuh gadis itu, mata gadis itu diberi racun asam yang membakar mata gadis itu, dan di dalam tubuh gadis itu ditemukan plastik-plastik. Sebelumnya pihak keluarga gadis sudah menginformasikan kepada polisi tentang kasus penculikan gadis itu, namun polisi tidak berusaha maksimal dalam pencarian gadis itu dengan alasan mereka tidak memiliki mobil polisi untuk mencari pelaku penculikan si gadis. Polisi bahkan meminta keluarga si gadis untuk menyediakan kendaraan untuk mereka bila keluarga si gadis ingin si gadis segera ditemukan. Di sisi lain, seorang gadis diculik oleh beberapa preman dan diperkosa. Gadis itu ditemukan di sebuah daerah terpencil dan ia ditemani ibunya melapor ke polisi. Di kantor polisi, si gadis dan ibunya harus menunggu semalaman untuk mengisi data FIR (First Information Report). FIR adalah dokumen tertulis yang disediakan oleh kepolisian India, Bangladesh, dan Pakistan untuk mendata kasus. Namun pagi harinya, si gadis dan ibunya pulang tanpa data FIR. Pelaku pemerkosaan pun tidak ditangkap secepatnya oleh polisi. Si gadis dan ibunya tidak menyerah dan mendatangi kembali kantor polisi untuk mengisi data FIR supaya kasus pemerkosaan si gadis cepat diusut. Mereka lalu mengisi data FIR di kantor polisi, namun malamnya si gadis kembali diculik oleh para pemerkosa. Setelah diperkosa, gadis itu ditinggalkan di rel kereta api sendirian. Beberapa warga menemukan gadis itu dan menyelamatkan gadis itu. Keluarga si gadis yang menjadi korban pemerkosaan lalu kembali mendatangi kantor polisi untuk mengisi FIR bagi kasus pemerkosaan kedua yang dialami gadis itu, namun polisi lagi-lagi mempersulit upaya keluarga si gadis untuk mengisi FIR, bahkan polisi tidak mengisi FIR atas kasus pemerkosaan kedua yang dialami si gadis. Para preman yang memperkosa si gadis kemudian terus menerus memberikan teror kepada keluarga si gadis—membuat keluarga si gadis takut dan mereka memutuskan untuk pindah rumah. Para preman lalu membakar gadis itu hidup-hidup di rumah baru si gadis ketika gadis itu sedang sendiri di rumahnya. Selain itu, juga terjadi tindak pemerkosaan di kantor polisi India yang melibatkan empat pria dan satu wanita. Memang sungguh keji tindak pemerkosaan di India saat ini. Selain itu, ketidak becusan polisi membuat kasus pemerkosaan menjadi telat ditangani. Polisi cenderung mempersulit langkah korban pemerkosaan untuk meraih keadilan daripada memenuhi tugas mereka menangkap pelaku pemerkosaan.

Ketika Dokter Menolak Mengobati Pasien

Dokter bertugas untuk mengobati pasien. Namun, bagaimana jika dokter menolak pasien? Seorang gadis di India menjadi korban pemerkosaan dan dia mendatangi rumah sakit untuk mengobati luka hasil kekerasan seksual di tubuhnya dan mengidentifikasi luka sebagai bukti untuk diajukan di pengadilan. Namun dokter justru menolak untuk melayani gadis itu. Orang-orang di rumah sakit, termasuk dokter, perawat, pasien lain, dan satpam rumah sakit mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu dan mereka menanyai gadis itu beribu pertanyaan yang tidak bisa dijawab gadis itu tentang kronologi pemerkosaan yang dialaminya. Dokter menganggap gadis itu bukan pasiennya dan dokter mengabaikan keluhan korban pelecehan seksual. Dokter bahkan menakut-nakuti gadis itu dan mengatakan bahwa tes medis yang akan dilakukannya akan membuat gadis itu tidak bisa hamil. Dokter biasa melakukan tes 2 jari untuk mengetes keperawanan korban perkosaan. Tes ini pada umumnya justru menyakiti fisik dan mental korban perkosaan, sama saja dengan pemerkosaan dalam bentuk lain. Tes 2 jari adalah tes keperawanan dengan memasukkan dua jari tangan ke daerah kewanitaan korban perkosaan. Dokter—sama seperti polisi, juga sering tidak melakukan hal maksimal dalam memeriksa korban pemerkosaan. Misalnya, ketika ada gadis yang diperkosa, terdapat luka gigitan di wajah dan lengan gadis itu, namun dokter tidak menyertakan data luka gigit di berkas medis gadis tersebut dan hanya menuliskan adanya luka kecil di daerah vital. Juga, ketika ada gadis yang diperkosa dari belakang, dokter memeriksa si gadis dari depan dan menulis di berkas medis bahwa tidak ada luka apapun di bagian tubuh gadis itu, padahal jika dokter memeriksa si gadis dari belakang dokter mungkin bisa menemukan bukti luka. Ada beberapa alasan dibalik penolakan dokter untuk memeriksa dan mengobati korban perkosaan. Salah satunya, dokter takut dengan kemungkinan dirinya dituduh sebagai pelaku pemerkosaan terhadap gadis yang diperiksanya. Padahal, tugas dokter sudah jelas untuk memeriksa dan mengobati pasien yang sakit. Apapun resikonya, dokter harus mau mengobati orang sakit karena itulah tugas seorang dokter.

Ketika Pakaian Dalam Korban Pemerkosaan Jadi Tontonan di Pengadilan

20 tahun lalu, seorang wanita mengalami pemerkosaan saat ia sedang tertidur. Wanita itu lalu melapor ke polisi dan melakukan tes kesehatan untuk memenuhi berkas-berkas perkara hingga sampailah waktunya wanita itu pergi ke pengadilan untuk mengikuti proses pengadilan. Di pengadilan, wanita itu mendapati suatu peristiwa mengejutkan dimana wanita itu ditanyai oleh pengacara pertanyaan-pertanyaan yang tidak ‘sesuai’ (baca: senonoh), membuat wanita itu terkejut. Sampai saat ini kasus pemerkosaan wanita itu belum terselesaikan. Bayangkan, butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk mendapatkan keadilan. Sampai sekarang pula pelaku pemerkosaan wanita tersebut masih bisa bebas berkeliaran. Tidak sedikit korban pemerkosaan yang mengalami nasib yang sama dengan wanita tersebut di pengadilan. Bahkan ada yang lebih parah. Beberapa wanita ada yang harus menjawab pertanyaan yang sangat vulgar, ada yang mendeskripsikan pemerkosaan yang dialaminya, bahkan ada juga yang pakaian-pakaian dalamnya sewaktu mengalami perkosaan pun dipajang di meja hijau. Hal ini tentu membuat wanita itu sangat malu. Para pelaku pemerkosaan yang juga berada dalam sidang tertawa melihat pakaian-pakaian dalam wanita itu dan membuat wanita itu marah. Sang pengacara memegang dan menunjukkan pakaian dalam wanita itu di hadapan publik. Tentu hal ini sangat memalukan, bagai pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Itu adalah penghinaan yang sangat besar bagi wanita itu.

Luka Para Korban Pemerkosaan

Tingkah para pelaku pemerkosaan di India memang sangat sadis. Mereka tidak segan-segan membunuh para korban pemerkosaan dan melakukan penyiksaan yang sangat keji terhadap mereka. Mereka melakukan berbagai cara agar mereka bisa lari dari hukuman atas pemerkosaan yang mereka lakukan. Salah satunya, di India Utara, seorang gadis korban pemerkosaan dipotong lidahnya oleh para pelaku pemerkosaan supaya si gadis tidak bisa bersaksi atas pemerkosaan yang dialaminya. Para pelaku pemerkosaan pantas mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Namun penegakan hukum di India masih sangat lemah, para pelaku pemerkosaan masih bisa melarikan diri dari hukuman. Ada sebagian korban pemerkosaan yang harus merasakan penderitaan mental yang sangat panjang. Sudah cukup dengan adanya trauma akan pemerkosaan dan luka batin, ditambah dengan pengucilan pergaulan dari lingkungan masyarakat membuat korban pemerkosaan semakin menderita. Dalam hal ini bukannya pelaku pemerkosaan yang disalahkan, malah korban pemerkosaan yang mendapatkan hukuman yang kejam. Di India, tidak ada wanita yang diperkosa dalam keadaan memakai pakaian seksi dan ketat seperti di Indonesia. Sebagian besar wanita India memakai baju sari ketika diperkosa. Ada juga yang memakai salwar kurta ketika diperkosa. Para korban pemerkosaan harus berjuang keras ditengah caci maki lingkungan sosial. Selain itu, korban pemerkosaan juga harus bertahan dari teror para pelaku pemerkosa. Namun, terkadang, meski korban pemerkosaan sudah berusaha bertahan dari teror, namun ujung-ujungnya korban pemerkosaan juga dibunuh oleh pemerkosa. Betapa sadis tindak pemerkosaan di India. Di India, wanita di berbagai rentang usia rentan mengalami perkosaan, bahkan anak kecil dan lansia pun bisa mengalami pemerkosaan. Saya menaruh banyak rasa kasihan kepada korban pemerkosaan yang masih anak-anak karena mereka akan mengalami trauma yang sangat berat, tapi bukan berarti saya tidak menaruh kasihan terhadap korban pemerkosaan remaja maupun yang sudah lansia. Sebanyak 1 juta lebih kasus pemerkosaan di India ditunda di pengadilan, sehingga banyak korban pemerkosaan yang haus keadilan merasa percuma harus melayangkan gugatan ke pengadilan untuk menghukum pelaku pemerkosaan. Pun banyak korban pemerkosaan yang merasa kecewa. Para korban pemerkosaan yang seharusnya mendapat keadilan justru mendapatkan ketidak adilan. Sudah diperkosa, mendapatkan trauma mental dan fisik, mendapatkan teror dari pelaku pemerkosaan, mendapatkan pengucilan, mendapatkan ketidak adilan dalam kasus hukum, lalu apa lagi? Luka yang ditanggung para korban pemerkosaan begitu banyak, saya sendiri tidak bisa membayangkan betapa sakitnya menjadi korban pemerkosaan. Sebagian besar pemerkosaan di India terjadi di pedesaan. India adalah negara dengan tingkat pemerkosaan massal tertinggi. Namun para korban pemerkosaan—terutama yang sudah berkeluarga, selalu berusaha bangkit dari kasus perkosaan yang menimpa mereka berkat dorongan keluarga yang menyayangi mereka. Urmila Singh Bharti, salah seorang korban pemerkosaan, berhasil bangkit dari kasus perkosaan yang menimpanya berkat suaminya, Gopal. Gopal selalu membantu dan menyayangi Urmila meskipun saat-saat pasca kasus pemerkosaan Urmila adalah masa-masa terburuk dimana tidak ada orang yang mau berbicara dan berkunjung ke rumah mereka. Urmila berkata, “Seorang pria akan meninggalkan istrinya apabila istrinya mengalami pemerkosaan atau semacamnya, mereka akan berpikir seorang wanita tidak akan ada artinya jika dia sudah mengalami hal-hal semacam itu dan wanita itu hanya akan membawa aib bagi mereka. Mereka tidak berpikir bahwa mereka harus berdiri di samping istri mereka, menghibur mereka, dan membantu istri mereka mengirim pelaku pemerkosaan ke penjara. Tapi mereka tidak memikirkan hal itu. Mengapa? Karena mereka tidak bisa berpikir seperti itu.” Urmila tentunya sangat beruntung memiliki suami seperti Gopal yang senantiasa melindungi Urmila. Urmila sampai saat ini masih bertahan dan melewati masa-masa sulitnya berkat bantuan suaminya. Namun tidak sedikit juga yang sampai bunuh diri karena tidak tahan akan penderitaan yang dialaminya sebagai korban pemerkosaan.

Urmila

Urmila

Shreya Ghoshal & Lata Mangeshkar

latashreya

Kanan: Lata Mangeshkar, kiri: Shreya Ghoshal

Di antara sekian banyak playback singer tersohor asal India, saya hanya kenal Lata Mangeshkar dan Shreya Ghoshal. Kalau saya disuruh mencari tahu nama-nama playback singer lain asal India selain mereka, saya akan tidak sanggup melakukannya.  Lata dan Shreya adalah orang-orang yang sangat menginspirasi saya. Saya suka mendengarkan nyanyian mereka di film-film Bollywood seperti Kabhi Khushi Khabie Gham, Veer-Zaara, Devdas, Rab Ne Bana Di Jodi, dsb. Dan suara mereka ini pas sekali nempel di telinga saya. Terutama suara Eyang Lata Mangeshkar yang meskipun sudah berusia kepala delapan namun masih sangat merdu. Ngomong-ngomong ternyata Eyang Lata ini dulu pernah lho duet sama Rhoma Irama. Eyang Lata berduet dengan Rhoma menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Eyang juga sempat merekam solo lagu dangdut berbahasa Indonesia berjudul ‘Sekuntum Mawar Merah’. Berikut ini adalah sedikit biografi Lata Mangeshkar.

Lata Mangeshkar lahir pada tanggal 28 September 1929 di India. Dia adalah salah satu playback singer asal India yang paling terkenal. Lata memulai karir bermusiknya pada tahun 1942 dan hingga saat ini dia telah merekam ribuan lagu berbahasa Hindi. Lata memiliki 4 adik yang semuanya juga berprofesi sebagai playback singer, yaitu Asha Bhosle, Hridaynath Mangeshkar, Usha Mangeshkar, dan Meena Mangeshkar. Lata Mangeshkar adalah penyanyi dibalik soundtrack film Veer-Zaara, Tere Liye dan soundtrack film Kabhi Khushi Khabie Gham, juga lagu Humko Humise Chura Lo di film Mohabbatein.

Lata Mangeshkar (84)

Lata Mangeshkar (84)

Di bawah ini adalah lagu Kabhi Khushi Khabhie Gham yang dinyanyikan oleh Lata Mangeshkar.

Sebenarnya sometimes saya kalo dengerin suaranya Eyang Lata ini suka ngerasa geli-geli gimana gitu, hehe, tapi anehnya suara Eyang ini selalu berhasil nempel di telinga saya. Suara Eyang Lata ini sangat unik, mendengar suara Eyang saja kita sudah bisa menebak kalau itu suara Eyang.

Lain Eyang Lata, lain Tante Shreya. Tante Shreya Ghoshal ini suaranya lebih melengking daripada Eyang Lata Mangeshkar. Saya langsung ngefans kepada Tante sejak saya mendengarkan lagu Tujh Mein Rab Dikhta Hai, lagu soundtrack film Rab Ne Bana Di Jodi yang dialunkan oleh Tante Shreya. Ini dia lagunya yang versi live, monggo di-play.

Shreya Ghoshal lahir di sebuah keluarga brahmana (pendeta dalam agama Hindu) pada tanggal 12 Maret 1984 di Bengal Barat.  Dia memulai karir bermusiknya setelah ia memenangkan sebuah kontes musik di TV India. Lagu soundtrack pertama yang ia nyanyikan adalah lagu soundtrack film Devdas yang membawanya menang dalam Filmfare Awards kategori playback singer terbaik.  Shreya juga menjadi juri di Indian Idol Junior. Atas dedikasi tingginya terhadap musik, Shreya mendapatkan penghargaan dari gubernur Ohio, Ted Strickland berupa deklarasi bahwa setiap tanggal 26 Juni dirayakan ‘Hari Shreya Ghoshal’.

shreya

She’s really pretty 🙂

Saya sejujurnya kurang tahu tentang apa yang akan saya tulis mengenai Tante Shreya karena saya baru kenal dengan tante cantik ini beberapa hari lalu. Tapi yang jelas buat saya Tante Shreya luar biasa. Suaranya keren dan melengking, juga unik banget. Selain itu dia juga cantik. Saya baru tahu kalau tante ini adalah wanita yang menyanyikan lagu Tujh Mein Rab Dikhta Hai, soundtrack film Rab Ne Bana Di Jodi setelah saya menonton penampilannya di panggung Indian Idol Junior menyanyikan lagu Tujh Mein Rabh Dikhta Hai.  Saya kenal dengan Tante Shreya baru beberapa hari ini sementara saya sudah kenal dengan Lata Mangeshkar selama berbulan-bulan, jadinya saya lebih tahu banyak tentang Lata daripada Shreya, But I love them both! Sama-sama memiliki suara unik dan merdu, tanpa lagu-lagu yang mereka berdua alunkan (terutama tanpa lagu yang dinyanyikan Eyang Lata) pasti film-film Bollywood menjadi datar dan tidak bernyawa. I respect them all!

“Aku Melihat Tuhan Dalam Dirimu…”

47

Bagi para pecinta film Bollywood pasti pernah menonton film yang satu ini. Film ini berjudul Rab Ne Bana Di Jodi, yang artinya Jodoh Dari Tuhan. Film berdurasi 167 menit ini disutradarai oleh Aditya Chopra, putra sulung mendiang sutradara sekaligus pendiri rumah produksi Yash Raj Films, Yash Chopra. Film ini dibintangi oleh Shah Rukh Khan (SRK) yang berperan sebagai Surinder Sahni/Raj dan Anushka Sharma yang berperan sebagai Tania ‘Thaani’ Gupta.

Surinder Sahni adalah pegawai PLN yang sederhana dan pemalu. Ia jatuh cinta kepada Thaani, putri Profesor Gupta, ketika sedang berada di rumah Profesor Gupta untuk menyaksikan acara pernikahan Thaani dan calon suaminya. Namun semuanya berubah setelah Thaani mendapat kabar buruk bahwa rombongan mempelai pria yang akan datang ke rumah Thaani kecelakan dan sang mempelai pria meninggal dunia. Pada saat yang sama ayah Thaani terkena serangan jantung dan harus dibawa ke rumah sakit. Pada ujung kematiannya, Profesor Gupta memberi wasiat terakhir kepada Thaani untuk menikah dengan Surinder, karena Surinder adalah murid favorit sang profesor ketika di perguruan tinggi. Selain itu Surinder juga pria yang sopan, baik, dan pintar, makanya Profesor Gupta memilih Surinder untuk mendampingi Thaani. Akhirnya dengan berat hati Thaani pun menuruti wasiat ayahnya.

Thaani pun dibawa ke Amritsar untuk tinggal bersama Surinder setelah pernikahan dilangsungkan. Sejak kematian calon suami dan ayahnya serta pernikahannya dengan Surinder yang tidak bahagia, Thaani menjadi menutup hatinya untuk siapapun. Ia sudah tidak mampu lagi mencintai siapapun. Surinder, sebagai suami Thaani, selalu berusaha mengubah Thaani menjadi periang lagi seperti dulu, namun selalu gagal karena Thaani tak mampu ‘membaca’ cinta dan perhatian Surinder. Suatu saat, Surinder mencoba menyamar dengan identitas baru bernama Raj dan menjadi partner Thaani di kelas tari, karena Thaani sangat suka menari. Kehadiran Raj (Surinder) membuat Thaani yang awalnya muram menjadi ceria seperti dulu karena kepribadian Raj yang lucu. Thaani mulai menyadari bahwa dirinya menyukai Raj, namun ragu karena dia sudah bersuami. Pada akhir cerita, Thaani akhirnya menyadari bahwa cinta yang dia butuhkan adalah Surinder, suaminya.

Film ini sangat romantis dan mengharukan. Apalagi pas ending-nya.

48

Surinder dan Thaani berdansa di kontes Dancing Jodi.

Di backstage setelah Thaani dan Surinder selesai menari, Thaani bertanya kepada Surinder kenapa Surinder bisa begitu mencintai Thaani. Surinder menjawab pertanyaan Thaani dengan enteng, “Karena aku melihat Tuhan dalam dirimu. Aku bisa saja meninggalkan manusia… Tapi aku tidak bisa meninggalkan Tuhan.” Tidak semua orang bisa mempunyai cinta seperti Surinder dan Thaani adalah salah satu wanita paling beruntung di dunia yang berhasil mendapatkan cinta Surinder. Pada umumnya orang-orang mencintai karena ketampanan atau kecantikan pada seseorang, atau karena status sosial mereka. Tapi tidak untuk Surinder. Dia mencintai karena itulah yang dia rasakan. Dia mencintai dengan hati yang tulus. Cinta Surinder adalah cinta sejati. Bahkan menurut saya, kisah cinta di Rab Ne Bana Di Jodi jauh lebih bagus ketimbang kisah cinta di serial Twilight Saga yang cenderung kacangan dan tidak bermutu. Twilight Saga tidak menonjolkan makna cinta sebenarnya dan Rab Ne Bana Di Jodi mampu menunjukkan hal itu. Karenanya saya berani mengungkapkan bahwa Rab Ne Bana Di Jodi jauh lebih bagus dari Twilight—dari sisi tema dan amanat—tidak dari sisi ketampanan dan kecantikan para aktor dan aktrisnya. Selain itu, akting Anushka Sharma di film Rab Ne Bana Di Jodi sangat bagus, sangat menyentuh dan membuat saya ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi Thaani. Selain mengharukan, film RNBDJ juga mampu membuat saya tertawa sekaligus menangis di saat yang sama ketika melihat adegan Surinder bertarung melawan sumo untuk memenangkan tiket liburan ke Jepang. Yeah, intinya film ini sangat bagus dan this is the one you must watch!