Pemerkosaan di India

stop_rape

Sumber: uncyclopedia.wikia.com

Aksi pemerkosaan wanita di India merupakan salah satu aksi pemerkosaan paling brutal di dunia. Kenapa saya katakan demikian? Kebanyakan kasus pemerkosaan di India dilakukan secara massal dan berujung oleh berbagai aktivitas kriminal seperti penculikan dan perampokan. Masih ingatkah Anda dengan kasus pemerkosaan massal di Delhi pada tahun 2012? Kasus yang mengerikan tersebut sampai sekarang masih menjadi perhatian banyak pihak. Kasus bermula ketika seorang gadis bernama Nirbhaya dan teman laki-lakinya pulang dari menonton film pada sore hari. Mereka menaiki bus yang telah dibajak pada perjalanan pulang dan mereka tidak menyadari bahwa bus tersebut telah dibajak. Nirbhaya lalu diperkosa oleh sekelompok pria, gadis malang itu dipukuli dan disiksa dengan brutal hingga gadis itu mengalami kerusakan otak dan pencernaan. Nirbhaya kemudian meninggal setelah menjalani perawatan medis di sebuah rumah sakit di Singapura tepat 13 hari setelah aksi pemerkosaan brutal yang dialaminya.

Kasus-kasus pemerkosaan di India masih sangat marak terjadi dan tidak hanya menimpa gadis-gadis remaja, namun juga balita-balita perempuan dan lansia. Seringkali kasus-kasus pemerkosaan di India juga melibatkan tindak-tindak kekerasan seperti pemukulan, penganiayaan, dan pembunuhan. Sebagian kecil penyebab masih maraknya kasus pemerkosaan di India adalah buruknya sistem penegakan hukum, kurangnya bantuan medis bagi para korban pemerkosaan, dan ketidak-becusan aparat keamanan (polisi) dalam menangani kasus. Mari kita bahas hal-hal tersebut dalam uraian berikut ini.

Polisi dan Mobil Polisi

Seorang gadis berusia 20 tahun pulang dari kantornya bersama 3 orang temannya. Gadis itu lalu tiba-tiba diculik oleh sekelompok laki-laki mabuk di dalam mobil dan gadis itu diperkosa. Beberapa hari kemudian, orang tua gadis itu dipanggil ke sebuah rumah sakit dan mereka diminta mengidentifikasi mayat putri mereka. Mayat gadis itu ditemukan dengan sangat mengenaskan. Terdapat luka paku di tubuh gadis itu, mata gadis itu diberi racun asam yang membakar mata gadis itu, dan di dalam tubuh gadis itu ditemukan plastik-plastik. Sebelumnya pihak keluarga gadis sudah menginformasikan kepada polisi tentang kasus penculikan gadis itu, namun polisi tidak berusaha maksimal dalam pencarian gadis itu dengan alasan mereka tidak memiliki mobil polisi untuk mencari pelaku penculikan si gadis. Polisi bahkan meminta keluarga si gadis untuk menyediakan kendaraan untuk mereka bila keluarga si gadis ingin si gadis segera ditemukan. Di sisi lain, seorang gadis diculik oleh beberapa preman dan diperkosa. Gadis itu ditemukan di sebuah daerah terpencil dan ia ditemani ibunya melapor ke polisi. Di kantor polisi, si gadis dan ibunya harus menunggu semalaman untuk mengisi data FIR (First Information Report). FIR adalah dokumen tertulis yang disediakan oleh kepolisian India, Bangladesh, dan Pakistan untuk mendata kasus. Namun pagi harinya, si gadis dan ibunya pulang tanpa data FIR. Pelaku pemerkosaan pun tidak ditangkap secepatnya oleh polisi. Si gadis dan ibunya tidak menyerah dan mendatangi kembali kantor polisi untuk mengisi data FIR supaya kasus pemerkosaan si gadis cepat diusut. Mereka lalu mengisi data FIR di kantor polisi, namun malamnya si gadis kembali diculik oleh para pemerkosa. Setelah diperkosa, gadis itu ditinggalkan di rel kereta api sendirian. Beberapa warga menemukan gadis itu dan menyelamatkan gadis itu. Keluarga si gadis yang menjadi korban pemerkosaan lalu kembali mendatangi kantor polisi untuk mengisi FIR bagi kasus pemerkosaan kedua yang dialami gadis itu, namun polisi lagi-lagi mempersulit upaya keluarga si gadis untuk mengisi FIR, bahkan polisi tidak mengisi FIR atas kasus pemerkosaan kedua yang dialami si gadis. Para preman yang memperkosa si gadis kemudian terus menerus memberikan teror kepada keluarga si gadis—membuat keluarga si gadis takut dan mereka memutuskan untuk pindah rumah. Para preman lalu membakar gadis itu hidup-hidup di rumah baru si gadis ketika gadis itu sedang sendiri di rumahnya. Selain itu, juga terjadi tindak pemerkosaan di kantor polisi India yang melibatkan empat pria dan satu wanita. Memang sungguh keji tindak pemerkosaan di India saat ini. Selain itu, ketidak becusan polisi membuat kasus pemerkosaan menjadi telat ditangani. Polisi cenderung mempersulit langkah korban pemerkosaan untuk meraih keadilan daripada memenuhi tugas mereka menangkap pelaku pemerkosaan.

Ketika Dokter Menolak Mengobati Pasien

Dokter bertugas untuk mengobati pasien. Namun, bagaimana jika dokter menolak pasien? Seorang gadis di India menjadi korban pemerkosaan dan dia mendatangi rumah sakit untuk mengobati luka hasil kekerasan seksual di tubuhnya dan mengidentifikasi luka sebagai bukti untuk diajukan di pengadilan. Namun dokter justru menolak untuk melayani gadis itu. Orang-orang di rumah sakit, termasuk dokter, perawat, pasien lain, dan satpam rumah sakit mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu dan mereka menanyai gadis itu beribu pertanyaan yang tidak bisa dijawab gadis itu tentang kronologi pemerkosaan yang dialaminya. Dokter menganggap gadis itu bukan pasiennya dan dokter mengabaikan keluhan korban pelecehan seksual. Dokter bahkan menakut-nakuti gadis itu dan mengatakan bahwa tes medis yang akan dilakukannya akan membuat gadis itu tidak bisa hamil. Dokter biasa melakukan tes 2 jari untuk mengetes keperawanan korban perkosaan. Tes ini pada umumnya justru menyakiti fisik dan mental korban perkosaan, sama saja dengan pemerkosaan dalam bentuk lain. Tes 2 jari adalah tes keperawanan dengan memasukkan dua jari tangan ke daerah kewanitaan korban perkosaan. Dokter—sama seperti polisi, juga sering tidak melakukan hal maksimal dalam memeriksa korban pemerkosaan. Misalnya, ketika ada gadis yang diperkosa, terdapat luka gigitan di wajah dan lengan gadis itu, namun dokter tidak menyertakan data luka gigit di berkas medis gadis tersebut dan hanya menuliskan adanya luka kecil di daerah vital. Juga, ketika ada gadis yang diperkosa dari belakang, dokter memeriksa si gadis dari depan dan menulis di berkas medis bahwa tidak ada luka apapun di bagian tubuh gadis itu, padahal jika dokter memeriksa si gadis dari belakang dokter mungkin bisa menemukan bukti luka. Ada beberapa alasan dibalik penolakan dokter untuk memeriksa dan mengobati korban perkosaan. Salah satunya, dokter takut dengan kemungkinan dirinya dituduh sebagai pelaku pemerkosaan terhadap gadis yang diperiksanya. Padahal, tugas dokter sudah jelas untuk memeriksa dan mengobati pasien yang sakit. Apapun resikonya, dokter harus mau mengobati orang sakit karena itulah tugas seorang dokter.

Ketika Pakaian Dalam Korban Pemerkosaan Jadi Tontonan di Pengadilan

20 tahun lalu, seorang wanita mengalami pemerkosaan saat ia sedang tertidur. Wanita itu lalu melapor ke polisi dan melakukan tes kesehatan untuk memenuhi berkas-berkas perkara hingga sampailah waktunya wanita itu pergi ke pengadilan untuk mengikuti proses pengadilan. Di pengadilan, wanita itu mendapati suatu peristiwa mengejutkan dimana wanita itu ditanyai oleh pengacara pertanyaan-pertanyaan yang tidak ‘sesuai’ (baca: senonoh), membuat wanita itu terkejut. Sampai saat ini kasus pemerkosaan wanita itu belum terselesaikan. Bayangkan, butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk mendapatkan keadilan. Sampai sekarang pula pelaku pemerkosaan wanita tersebut masih bisa bebas berkeliaran. Tidak sedikit korban pemerkosaan yang mengalami nasib yang sama dengan wanita tersebut di pengadilan. Bahkan ada yang lebih parah. Beberapa wanita ada yang harus menjawab pertanyaan yang sangat vulgar, ada yang mendeskripsikan pemerkosaan yang dialaminya, bahkan ada juga yang pakaian-pakaian dalamnya sewaktu mengalami perkosaan pun dipajang di meja hijau. Hal ini tentu membuat wanita itu sangat malu. Para pelaku pemerkosaan yang juga berada dalam sidang tertawa melihat pakaian-pakaian dalam wanita itu dan membuat wanita itu marah. Sang pengacara memegang dan menunjukkan pakaian dalam wanita itu di hadapan publik. Tentu hal ini sangat memalukan, bagai pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Itu adalah penghinaan yang sangat besar bagi wanita itu.

Luka Para Korban Pemerkosaan

Tingkah para pelaku pemerkosaan di India memang sangat sadis. Mereka tidak segan-segan membunuh para korban pemerkosaan dan melakukan penyiksaan yang sangat keji terhadap mereka. Mereka melakukan berbagai cara agar mereka bisa lari dari hukuman atas pemerkosaan yang mereka lakukan. Salah satunya, di India Utara, seorang gadis korban pemerkosaan dipotong lidahnya oleh para pelaku pemerkosaan supaya si gadis tidak bisa bersaksi atas pemerkosaan yang dialaminya. Para pelaku pemerkosaan pantas mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Namun penegakan hukum di India masih sangat lemah, para pelaku pemerkosaan masih bisa melarikan diri dari hukuman. Ada sebagian korban pemerkosaan yang harus merasakan penderitaan mental yang sangat panjang. Sudah cukup dengan adanya trauma akan pemerkosaan dan luka batin, ditambah dengan pengucilan pergaulan dari lingkungan masyarakat membuat korban pemerkosaan semakin menderita. Dalam hal ini bukannya pelaku pemerkosaan yang disalahkan, malah korban pemerkosaan yang mendapatkan hukuman yang kejam. Di India, tidak ada wanita yang diperkosa dalam keadaan memakai pakaian seksi dan ketat seperti di Indonesia. Sebagian besar wanita India memakai baju sari ketika diperkosa. Ada juga yang memakai salwar kurta ketika diperkosa. Para korban pemerkosaan harus berjuang keras ditengah caci maki lingkungan sosial. Selain itu, korban pemerkosaan juga harus bertahan dari teror para pelaku pemerkosa. Namun, terkadang, meski korban pemerkosaan sudah berusaha bertahan dari teror, namun ujung-ujungnya korban pemerkosaan juga dibunuh oleh pemerkosa. Betapa sadis tindak pemerkosaan di India. Di India, wanita di berbagai rentang usia rentan mengalami perkosaan, bahkan anak kecil dan lansia pun bisa mengalami pemerkosaan. Saya menaruh banyak rasa kasihan kepada korban pemerkosaan yang masih anak-anak karena mereka akan mengalami trauma yang sangat berat, tapi bukan berarti saya tidak menaruh kasihan terhadap korban pemerkosaan remaja maupun yang sudah lansia. Sebanyak 1 juta lebih kasus pemerkosaan di India ditunda di pengadilan, sehingga banyak korban pemerkosaan yang haus keadilan merasa percuma harus melayangkan gugatan ke pengadilan untuk menghukum pelaku pemerkosaan. Pun banyak korban pemerkosaan yang merasa kecewa. Para korban pemerkosaan yang seharusnya mendapat keadilan justru mendapatkan ketidak adilan. Sudah diperkosa, mendapatkan trauma mental dan fisik, mendapatkan teror dari pelaku pemerkosaan, mendapatkan pengucilan, mendapatkan ketidak adilan dalam kasus hukum, lalu apa lagi? Luka yang ditanggung para korban pemerkosaan begitu banyak, saya sendiri tidak bisa membayangkan betapa sakitnya menjadi korban pemerkosaan. Sebagian besar pemerkosaan di India terjadi di pedesaan. India adalah negara dengan tingkat pemerkosaan massal tertinggi. Namun para korban pemerkosaan—terutama yang sudah berkeluarga, selalu berusaha bangkit dari kasus perkosaan yang menimpa mereka berkat dorongan keluarga yang menyayangi mereka. Urmila Singh Bharti, salah seorang korban pemerkosaan, berhasil bangkit dari kasus perkosaan yang menimpanya berkat suaminya, Gopal. Gopal selalu membantu dan menyayangi Urmila meskipun saat-saat pasca kasus pemerkosaan Urmila adalah masa-masa terburuk dimana tidak ada orang yang mau berbicara dan berkunjung ke rumah mereka. Urmila berkata, “Seorang pria akan meninggalkan istrinya apabila istrinya mengalami pemerkosaan atau semacamnya, mereka akan berpikir seorang wanita tidak akan ada artinya jika dia sudah mengalami hal-hal semacam itu dan wanita itu hanya akan membawa aib bagi mereka. Mereka tidak berpikir bahwa mereka harus berdiri di samping istri mereka, menghibur mereka, dan membantu istri mereka mengirim pelaku pemerkosaan ke penjara. Tapi mereka tidak memikirkan hal itu. Mengapa? Karena mereka tidak bisa berpikir seperti itu.” Urmila tentunya sangat beruntung memiliki suami seperti Gopal yang senantiasa melindungi Urmila. Urmila sampai saat ini masih bertahan dan melewati masa-masa sulitnya berkat bantuan suaminya. Namun tidak sedikit juga yang sampai bunuh diri karena tidak tahan akan penderitaan yang dialaminya sebagai korban pemerkosaan.

Urmila

Urmila

Kado Ulang Tahun

       gift-package

     Ah, besok kau ulang tahun. Kau. Iya, kau yang lucu dan menggemaskan itu. Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. 2 hari? Yeah, kau pasti sedang sibuk menyusun novel debutmu. Kau, si calon penulis itu. Hm… Aku ingin sekali memberimu kado ulang tahun. Kau tahu, kau sama sekali tidak pernah memberiku kado ulang tahun. Setiap kali aku ulang tahun, kau hanya memberiku ucapan selamat ulang tahun yang datar dan itu menyebalkan sekali. Aku tahu, kau sebenarnya selalu ingin memberiku kado ulang tahun. Tapi kau selalu tidak pernah mau berbuat baik duluan. Baiklah. Kau memang rumit. Tapi aku mencintaimu. Sangat. Dan hari ini aku berniat mencari kado ulang tahun terbaik untukmu. Kau—si calon penulis itu. Sejak kecil kau sangat suka menulis. Kau ingin sekali menjadi penulis. Karenanya, aku akan membelikanmu kertas dan tinta. Aku membeli empat kodi kertas dan setengah lusin tinta. Aku lalu membawa pulang kadomu yang akan kuberikan padamu. Aku membayangkan reaksimu melihat kado yang kuberikan kepadamu. Kau pasti marah dan membuang kadoku di tengah hujan. Di tengah hujan? Ha, dramatis sekali. Kurasa aku takut membayangkan reaksimu. Kau tahu, kau selalu membuatku takut. Kau memang membingungkan.

***

Astaga, aku bangun kesiangan! Aku harus segera memberikan kado ulang tahun untuk Andre! Aku langsung mencuci wajahku, menyikat gigi, dan berganti pakaian. Aku lalu menyambar kado ulang tahun Andre yang belum sempat kubungkus. Aku benar-benar lupa untuk membungkus kado ulang tahun Andre. Aku melihat jam tanganku. Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Biasanya sih, jam segini Andre berada di kafe kesukaannya, kafe Red Heart. Pagi ini benar-benar mendung. Kebetulan rumahku dengan kafe tempat Andre biasa nongkrong sendirian dekat, jadi aku berjalan kaki. Tiba-tiba hujan turun. Deras sekali. Aku lupa membawa payung. Aku mendekap kado-kado untuk Andre dengan erat supaya tidak kehujanan. Sesampainya di kafe, aku melihat Andre. Dia sedang duduk di depan laptopnya. Tapi, tunggu… siapa itu? Siapa gadis yang duduk di sebelah Andre? Aku mencoba melihat gadis itu lebih dekat. Tapi aku tidak mengenali gadis itu.

“Sayang…” panggil gadis itu kepada Andre.

“Hm…” Andre menatap gadis itu dengan sayu. Mata Andre lalu kembali mengarah ke laptop. Kulihat gadis itu mencium pipi Andre. Dadaku sesak. Kenapa Andre  tidak pernah bilang kepadaku kalau dia sudah memiliki pacar? Air mataku menetes. Aku menggenggam kado ulang tahun Andre erat-erat, agar tidak terjatuh ke bawah. Hatiku pilu. Kenapa harus sesakit ini. Kenapa. Aku hanya ingin bilang kepadamu kalau kau berarti bagiku. Aku selalu yakin kalau aku juga berarti bagimu, meski kau tidak pernah mengungkapkannya. Aku suka kepadamu—dan segala perhatianmu padaku. Tapi, kenapa? Aku menghapus air mataku dan berbalik. Kau benar tentang aku, Dre. Aku memang gadis yang bodoh, yang selalu bergantung kepadamu, yang selalu membuatmu repot. Aku memang gadis yang hanya bisa menyusahkanmu saja. Mulai sekarang aku berjanji enggak akan ganggu kamu lagi, Dre.

 

 

Mencontek For Good

cheating-2

Awalnya saya pengen memberi judul artikel ini cheating for good. Tapi takutnya kalau saya beri judul demikian nanti artikel saya muncul di kolom pencarian Google dengan kata kunci ‘selingkuh’. Hehe. Yeah, cheating yang saya maksud adalah mencontek, bukan selingkuh ya. Soalnya kata cheating dalam bahasa Inggris kan memiliki dua makna ‘selingkuh’ dan ‘mencontek’. OK. Let us write this article. Actually, this article tidak bisa disebut artikel. Tapi juga tidak bisa disebut cerpen sih. Karena yang akan saya tulis di bawah ini adalah kisah nyata—bukan cerpen, bukan juga artikel. Lebih tepat disebut salah satu potongan diary anak ingusan bodoh bergigi tonggos. Jangan mikir ya kalau sayalah anak ingusan bodoh bergigi tonggos itu. Buahahahahahahahahaha.

Suatu hari, Alice pulang sekolah dengan wajah suntuk. Alice adalah gadis yang sering mendapat bully di sekolah karena memiliki gigi tonggos dan senang bersikap seperti alien. Dan ibu Alice, Vera, tahu betul tentang hal itu. Namun, sangat sulit menasihati Alice untuk menghilangkan kebiasaannya bersikap seperti alien. Alice membanting tasnya dan duduk dengan suntuk.

“Nak?” kata Vera menatap Alice yang tampak kesal dan langsung duduk di teras sepulang sekolah, “pulang sekolah kok enggak salaman dulu sama mama?”

“Alice kesel, Ma,” ujar Alice sambil merengut. Dia menyilangkan tangannya dan menautkan kedua alisnya.

“Kesel kenapa?” tanya Vera dengan sabar sembari duduk di samping Alice.

“Tadi pas ulangan matematika Alice dapat nilai 6,” jawab Alice.

“Kenapa nilaimu bisa jelek, Al? Trus?”

“Padahal Alice kemarin sudah belajar, tapi ulangannya susah-susah banget. Alice akhirnya dimarahin Bu Cindy karena Alice dapat nilai paling jelek pas ulangan matematika, sementara rata-rata temen-temen Alice dapat nilai 9. Padahal tadi anak-anak di kelas pada nyontek ke Febri semua. Alice sendiri yang enggak nyontek. Mama ‘kan pernah bilang, nyontek itu dosa. Lagipula kasihan Febri nilainya jadi jelek gara-gara nyontekin temen-temennya. Mama ‘kan pernah bilang Alice harus jujur kapanpun dan dimanapun Alice berada.”

“Kenapa kamu enggak nyontek juga, sih, Al?”balas Vera geram.  Hati Alice remuk.

PPDB!

ppdb

Kemarin adalah hari paling menyedihkan bagi saya. Kemarin, saya dinyatakan tidak bisa lolos seleksi masuk SMA 1 Malang—SMA impian saya. Seharian itu saya terus-terusan menangis dan mengurung diri di kamar. Keluar dari kamar pun hanya ketika saya mau shalat dan berbuka puasa. Ayah saya tampak marah ketika saya tidak lolos seleksi masuk SMA 1 Malang. Saya sebenarnya tidak lolos seleksi bukannya saya bodoh. Saya sebenarnya bisa lolos seleksi masuk SMA 1 Malang. Saya tidak lolos karena saya anak luar kota. Jadi begini, tahun ini PPDB (penerimaan peserta didik baru) di kota Malang menggunakan sistem rayon. Sistem rayon yaitu mengelompokkan beberapa sekolah dan menjadikannya beberapa rayon. SMA-SMA di Malang dikelompokkan menjadi 3 rayon. SMA 1 Malang berada di rayon 1 bersama SMA 8 Malang, SMA 9 Malang, dan SMA Widyagama. Sementara di rayon 2 ada SMA 3 Malang, SMA 6 Malang, dan SMA 10 Malang. Di rayon 3 ada SMA 2 Malang, SMA 4 Malang, SMA 5 Malang, dan SMA 7 Malang. Saya pilih rayon 1 karena di sana ada SMA impian saya, SMA 1 Malang. Kalau sewaktu-waktu saya enggak lolos masuk SMA 1 Malang, saya bisa masuk SMA 8 Malang—yang satu rayon dengan SMA 1. Tapi hasilnya saya tidak lolos di SMA 1 Malang dan SMA 8 Malang, saya malah masuk SMA 9 Malang. Saya masuk SMA 9 Malang karena pagu SMA 1 dan SMA 8 Malang yang menampung siswa luar kota Malang sudah penuh. Setiap SMA di Malang mengadakan prosentase 10% dari jumlah pagu bagi siswa luar kota. Di SMA 1 Malang pagunya adalah 286 siswa, berarti pagu siswa luar kota berjumlah 28 siswa. Saya bersaing dengan ratusan siswa luar kota yang mendaftar di SMA 1 Malang, dan hanya dipilih 28 siswa dari ratusan siswa tersebut. 28 siswa yang terpilih masuk SMA 1 Malang memiliki NA (nilai akhir) yang sangat tinggi, rata-rata nilai mereka 9. Jelas saja saya tidak lolos wong NA saya hanya 8.63. Yowes, aku rapopo. Tapi waktu ayah saya marah pas tahu saya enggak masuk SMA 1 dan SMA 8, ayah saya marah. Seharian saya nangis gara-gara ayah, saya merasa enggak bisa memenuhi keinginan ayah saya. Tapi mau bagaimana lagi, persaingan di Malang sangat ketat. Saya enggak tega banget waktu ayah saya ngomong sama saya tentang SMA mana yang mau saya masuki, SMA 9 Malang atau SMA Kabupaten (saya juga daftar ke salah satu sekolah di kabupaten saya dan saya diterima di sekolah tersebut). Waktu itu papa saya hampir nangis pas ngomong ke saya. Bayangin aja, awalnya saya mau masuk SMA kota favorit, sekarang malah turun kasta masuk sekolah kabupaten yang biasa-biasa saja. Ayah saya semacam sedih ketika impian saya harus musnah. Sebenarnya saya ingin sekolah di Malang supaya saya bisa ngekos. Saya ingin bisa jadi lebih mandiri. Di Malang ini ternyata pendaftarnya memang sangat banyak dan ada yang dari luar Jawa, seperti dari Kolaka, Papua, dan sebagainya. Sewaktu saya mendaftar di SMA 1 Malang, saya mendaftar di hari kedua, yaitu tanggal 2 Juli. Pendaftaran masuk SMA dibuka dari tanggal 1-3 Juli, sedangkan pengumuman penerimaan siswa baru pada tanggal 4 Juli. Sewaktu mendaftar, saya disuruh mengisi formulir khusus siswa dari luar kota. Lalu saya menyerahkan berkas-berkas ke panitia. Penyerahan berkas-berkasnya (berupa fotokopi SKHU dan rapor) harus mengantri karena ternyata banyak juga pendaftar yang datang dan akan menyerahkan berkas-berkas pendaftaran. Saya harus mengantri di bawah terop yang didirikan di lapangan SMAN 1 Malang bersama pendaftar-pendaftar lainnya. Setelah mengantri beberapa lama, nama saya pun dipanggil oleh panitia. Saya lalu duduk di depan meja panitia dan panitia yang mengurus berkas saya ini sangat menyebalkan. Saya disuruh membaca nilai-nilai rapot saya sementara mas panitia menulis nilai saya di laptop—seakan-akan saya enggak bisa angka atau enggak bisa baca nilai rapot saya sendiri. Lalu ketika saya membuat kesalahan ketika menulis angka rayon, mas panitia ini menatap rekannya di sebelahnya dengan tatapan yang seakan-akan mengatakan kepada rekannya tentang saya, ‘anak ini kok bodoh sekali ya, Bro’. Untungnya mas panitia menyediakan tipe-x untuk menghapus tulisan saya yang salah. Ketika saya mendaftar di SMA di kabupaten pada tanggal 3 Juli, saya panitianya juga nyebelin. Karena saya mendaftar di sekolah kabupaten yang biasa-biasa saja (atau mungkin sekolah yang ‘rendah’) dan saya berasal dari SMP terbaik di kabupaten Malang, panitia SMA kabupaten itu seakan-akan menganggap saya daftar di sana hanya sebagai pilihan kedua dan panitia berpikir saya akan cabut dari SMA kabupaten kalau saya keterima di SMA Malang. Apa emang semua panitia pendaftaran sekolah itu nyebelin ya. Haha.

Tentang Menjadi Cantik

Isn't she beautiful?

Sumber: deviantart.com—Isn’t she beautiful?

Saya sering dapat ejekan jelek. Sebenarnya enggak sering-sering sih. Cuma pernah. Tapi pernahnya berkali-kali (nah lo? HAHAHA) Sometimes saya pengen gitu jadi secantik Yoona SNSD. Atau secantik Chloe Moretz. Suatu hari teman saya pernah bilang kalo saya jelek dan akhirnya saya membeli semua produk kecantikan di supermarket. Saya memang menjadi lebih cantik sejak saat itu. Tapi karena saya enggak telaten belanja alat-alat kecantikan tiap bulan, akhirnya jeleknya balik lagi deh, hahaha.

Lupita Nyong'o, wanita berkulit hitam yang dinobatkan menjadi wanita tercantik oleh majalah People.

Lupita Nyong’o, wanita berkulit hitam yang dinobatkan menjadi wanita tercantik oleh majalah People.

Tapi setelah saya kenal Lupita Nyong’o, saya mulai berpikir kalau menjadi cantik itu tidak hanya semata-mata menjadi ‘cantik’. Lupita Nyong’o adalah aktris yang bermain di film 12 Years A Slave dan dia mendapatkan piala Oscar karena perannya dalam film tersebut. Wanita berusia 31 tahun ini dinobatkan menjadi wanita tercantik di dunia oleh majalah People. Saya awalnya merasa asing ketika mendengar nama Lupita Nyong’o. Ketika saya search nama Lupita Nyong’o di google, keluarlah gambar seorang wanita berkulit hitam. Saya awalnya berpikir, “Lupita ini cantiknya dari mana?” ketika saya melihat foto Lupita. Tapi setelah saya pikir-pikir saya terlalu rasis ketika berpikir demikian—majalah People tidak mengukur kecantikan seseorang dari penampilan. Lupita cantik karena dia cerdas. Dia aktris yang profesional, dia juga rendah hati. Tak pelak People menobatkannya sebagai wanita tercantik di dunia.

barbie

Ketika seseorang menjadi terlihat cantik karena make up berlebihan atau operasi plastik atau semacamnya… Itu bukanlah hakikat menjadi cantik yang sebenarnya. Girls, be proud of who you are!

Kakek Sakti

Ada seorang kakek sakti di kampung Ubur-Ubur Terbang. Kakek itu bisa berbicara dengan jin, menyembuhkan orang sakit, dan meramal masa depan. Minggu lalu si kakek berhasil menyembuhkan Mak Minah, penjual nasi berbadan seksi yang sakit karena diguna-guna. Ketika ada tuyul-tuyul yang mencuri uang penduduk kampung Ubur-Ubur Terbang beberapa tahun yang lalu, si kakek-lah yang mengusir tuyul-tuyul tersebut dari kampung. Si kakek juga pernah meramal masa depan Tarman, anak petani miskin yang kini telah menjadi bupati.

Di sebelah rumah si kakek sakti, tinggallah Haji Su’eb, seorang saudagar kayu. Hari ini dia akan menikahkan putrinya, Markonah, dengan Yakub, putra sahabatnya dari desa Kambing Laut. Pesta pernikahan yang akan diadakan di belakang rumah Haji Su’eb itu bertema pesta kebun. Istri Haji Su’eb, Wati, sedang sibuk di dapur menyediakan makanan untuk pesta pernikahan putrinya. Wati dibantu pelayan-pelayannya membawa nasi, sayur lontong, soto, bistik, ayam goreng, dan lodeh ke meja-meja yang telah tertata rapi mengelilingi halaman belakang rumah Haji Su’eb yang telah disulap menjadi kebun. Sementara Markonah sedang berdandan di kamarnya, dia berdandan secantik mungkin, memakai kebaya putih dan jarit batik kawung yang indah. Rambutnya yang panjang itu disanggul sedemikian rupa dan disematkanlah rangkaian bunga melati yang harum di helai rambutnya.

Kakek sakti melihat persiapan pesta pernikahan Markonah dari teras rumahnya, sambil menghisap rokok  kesukaannya. Dihisapnya rokoknya pelan-pelan dan nikmat. Mata si kakek menatap sayu teras rumah Haji Su’eb yang ramai karena banyak manusia berlalu-lalang membawa berbagai peralatan pesta.

“Mbah,” Haji Su’eb datang tiba-tiba sembari menepuk pundak kurus si kakek yang duduk termenung. Si kakek terlihat sedikit kaget.

“Oh! Duduk, Eb,” ajak si kakek. Haji Su’eb duduk di sebelah si kakek.

“Anu, Mbah, saya mau minta tolong ke sampeyan.” kata Haji Su’eb yang berbadan tambun itu, sembari menatap si kakek.

“Minta tolong apa, tho, Le?”

“Saya ini ‘kan mau ngadain acara hajatan Mbah. Markonah mintanya acara ini jadi pesta kebun. Nah, ‘kan kalo acaranya pesta kebun berarti saya enggak masang terop. Mbah, sampeyan ‘kan sakti. Hujannya jangan turun dulu sebelum acaranya Markonah selesai. Nanti kalo hujan bisa becek semua kebun saya, kasihan Markonah, Mbah. Nanti tamu-tamu undangannya kalau kehujanan bagaimana.” ujar Haji Su’eb sambil menatap langit yang mendung.

Sumber: panoramio.com

Si kakek tidak menjawab, ia hanya menghisap rokoknya pelan-pelan dan memalingkan wajah dari Haji Su’eb. Haji Su’eb menganggap tidak adanya jawaban dari si kakek sebagai jawaban ‘ya’. Maka Haji Su’eb pun berpamitan kepada si kakek dan meninggalkan si kakek sendirian di teras rumahnya. Satu jam kemudian, pesta pernikahan Markonah pun dimulai. Tamu-tamu undangan sudah berdatangan. Tapi tiba-tiba hujan turun. Di pesta kebun tersebut para undangan kebasahan terkena hujan. Sementara si kakek, yang berada di teras rumahnya, hanya duduk dan tidak bicara sepatah kata. Ia hanya diam dan menatap hujan yang turun.

Sumber: alisalamb.blogspot.com

Nyaris Kena Tipu Undian Pop Mie

Sumber: infokuiz.blogspot.com

Sumber: infokuiz.blogspot.com—Pop Mie Get Lucky 2014 berhadian Nissan March.

DSC05615

Inilah yang ditemukan suami pembantu saya di dalam kemasan Pop Mie-nya.

DSC05621

Kupon palsu, disertai nomor customer care palsu.

DSC05622

Bagian belakang kupon palsu, bertanda kepolisian.

DSC05623

Surat kepolisian palsu.

DSC05624

DSC05625

DSC05627

DSC05628

Kemarin, suami anak pembantu saya mendapatkan sebuah ‘kupon’ hadiah Pop Mie Get Lucky 2014 di dalam kemasan produk Pop Mie. ‘Kupon’ itu menyatakan bahwa suami anak pembantu saya memenangkan mobil yang menjadi hadiah promo Pop Mie Get Lucky. Tapi nyatanya ‘kupon’ ini hanyalah alat penipuan. Kupon Pop Mie yang asli berisi 10 digit angka namun di kupon palsu hanya tertulis empat digit angka. Promo Pop Mie Get Lucky berhadiah Nissan March iniberakhir di bulan Mei 2014, namun di kupon palsu  tertulis deadline promonya adalah pada bulan Agustus 2014. Selain kupon, suami anak pembantu saya juga menemukan surat keterangan kepolisian dan surat pemberitahuan pemenang yang terlampir bersama kupon palsu tadi. Dalam surat-surat tersebut dinyatakan promo Pop Mie Nissan March disponsori oleh stasiun televisi RCTI, ANTV, SCTV, dan TVOne. Padahal promo Pop Mie Get Lucky 2014 tidak disponsori pihak manapun. Surat-surat tersebut ‘ditanda tangani’ oleh direktur Indofood, komisaris besar polisi, depsos, dan notaris. Tampaknya dalang penipuan ini terlalu kreatif dan terlalu niat dalam membuat kupon dan surat-surat palsu dengan memanfaatkan promo Pop Mie Get Lucky 2014 sampai-sampai bisa ditanda tangani oleh pihak-pihak yang seharusnya tidak ikut tanda tangan dalam surat-surat tersebut. Sebaiknya readers berhati-hati ketika menemukan kupon dan surat-surat palsu seperti gambar di atas dalam bungkus Pop Mie.

Akhir-Akhir Ini…

cry

Akhir-akhir ini saya dapat banyak masalah dan itu berdampak pada produktivitas kepenulisan saya. Saya menjadi sering merasa malas dan kosong ketika akan menulis. Padahal proyek nulis saya untuk bulan ini masih banyak banget. Yeah, inilah derita saya sebagai penulis. Mungkin seharusnya saya lebih profesional. Tapi… ah. Saya memang  penulis yang tidak saya harapkan. Saya cenderung jadi ghost writer, bukannya jadi penulis dengan ide yang orisinal, padahal saya ingin sekali menulis dan menghasilkan karya yang orisinal. Sejujurnya saya menulis tanpa bakat. Kadang saya tidak memperhatikan hal-hal penting dalam menulis, suka serampangan kalau nulis tapi juga kadang perfeksionis gila-gilaan kalau nulis. Tapi, saya nulis artikel ini bukan untuk curhat tentang masalah-masalah yang saya alami dalam menulis.

Saya ingin curhat tentang masalah-masalah yang akhir-akhir ini menghampiri saya.

Jadi…

Pertama, saya mendapat masalah dengan adik saya. Meskipun saya dan adik saya sudah berbaikan, namun adik saya tampaknya masih sulit memaafkan perbuatan saya terhadap adik saya. Itu membuat saya patah hati—sebagai kakak. Seharusnya saya sebagai kakak bisa tegas menghadapi adik saya, karena dalam masalah ini tidak hanya saya seorang yang membuat masalah, tapi juga adik saya. Tapi saya tidak mau kasar-kasar kepada adik saya—takut membuatnya sakit hati. Jadi, saya biarkan saja saya sakit karena perbuatan adik saya.

Kedua, saya mendapat masalah dengan keluarga saya—lebih spesifiknya dengan sepupu-sepupu saya. Gara-gara masalah ini, saya merasa enggak enak kepada sepupu-sepupu saya. Sebenarnya saya juga enggak mau mengekspos lebih banyak masalah saya yang kedua ini, tapi akibat masalah ini sepupu-sepupu saya jadi gimana gitu ke saya. Memang salah saya sih. Sebenarnya enggak etis kalau saya curhat seperti ini di blog, tapi tangan saya terlanjur gatel pengen curhat, hehe.

Ketiga, saya mendapat masalah dengan dia. Masalahnya adalah saya dan dia harus berpisah. Tanpa selamat tinggal. Dan itu pahit sekali. Saya bikin satu puisi tentang perpisahan saya dengan dia di blog ini. Saya enggak berharap dia membaca puisi saya karena dia memang enggak bakal pernah membacanya. Ada gambar galaxy yang saya lampirkan di puisi itu karena galaxy selalu mengingatkan saya pada dia. Mungkin besok di SMA saya dan dia sudah enggak satu sekolah lagi seperti kemarin waktu SMP, meskipun mungkin saya selalu berharap dia kembali. Tapi saat ini saya berusaha keras melupakan dia. Lagipula, jika ini bukan perpisahan yang pahit, perpisahan ini pasti yang terbaik, meskipun selama ini saya sudah lama sekali bersama dengannya. Saya tahu berpisah memang yang terbaik. Kadang saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada laki-laki kesekian yang pernah mengisi hati saya ini, tapi dia tidak pernah mengijinkannya. Mungkin jika saya bilang selamat tinggal, itu justru melukai hatinya. Jadi saya hargai keputusan dia.

Sebenarnya, saya tidak suka curhat seperti ini di blog. Tapi saya jarang sekali curhat ke manusia. Saya cenderung lebih sering mendengarkan curhat orang lain. Saya kadang juga curhat sih ke orang-orang, tapi curhatnya itupun hanya lewat kalimat-kalimat yang sarkatis. Menurut saya curhat secara vulgar ke orang-orang tidak efektif meredam masalah dan justru menambah masalah. Jadi, saya lebih suka curhat di blog. Bagi saya, curhat lewat blog sudah cukup mengentengkan beban-beban saya dan alhamdulillah setelah curhat di sini masalah-masalah saya terasa lebih enteng dari sebelumnya. Baiklah, nulis artikelnya sampai sini saja. Kapan-kapan saya akan curhat lagi di blog ini, hehe. See you next article, daah!

LULUS

Akhirnya, tanggal 14 Juni kemarin saya dinyatakan lulus Ujian Nasional SMP. Bahagia. Sekaligus sedih. Kenapa? Karena pertama, saya lulus dengan nilai UN matematika HANYA 7,75. Kedua, saya harus berpisah dengan teman-teman SMP saya. Yaa, meskipun teman-teman SMP saya semuanya jahat, tapi saya sayang sama mereka semua. Nah, berhubung pengumuman kelulusan sudah dikeluarkan dan saya dinyatakan lulus, selanjutnya saya akan fokus untuk PPDB SMA. Kebetulan metode PPDB SMA yang digunakan tahun ini adalah online. Saya benci harus mendaftar SMA secara online, karena itu artinya metode tes pada penerimaan peserta didik baru SMA tahun ini tidak dipakai sebagai acuan. Saya memang suka sekali dengan metode tes. Kenapa? Karena kebanyakan hasil tes justru lebih JUJUR daripada hasil ujian nasional kemarin. Ada desas-desus menyatakan bahwa ujian nasional kemarin masih banyak pesertanya yang menggunakan jasa kunci jawaban.

Sumber: kemdikbud

Sumber: kemdikbud

Peraih nilai UN tertinggi di Jawa Timur didominasi oleh sekolah-sekolah menengah di Sumenep. Saya yakin di Sumenep ini pasti peserta-peserta UN-nya menggunakan kunci jawaban dan saya yakin pasti guru-guru di sekolah-sekolah menengah di Sumenep yang mengkoordinir peredaran kunci jawaban di kota tersebut. Saya masih tidak mengerti dengan alasan dindik untuk menghapus sistem tes dalam pendaftaran siswa baru tahun ini. Katanya sih kalau pakai tes bikin repot. Tapi saya tahu dindik tahu masih banyak peserta UN yang memakai kunci jawaban, logikanya kalau menerima siswa-siswi yang memakai kunci jawaban sama saja memelihara siswa-siswi yang seharusnya tidak diterima di sekolah yang menerima siswa-siswi tersebut karena mereka memakai kunci jawaban. Saya merasa saya jauh lebih baik dari siswa-siswi yang memakai kunci jawaban karena saya tidak memakai kunci jawaban dan seharusnya sekolah-sekolah besar yang mungkin akan menerima siswa-siswi yang memakai kunci jawaban lebih pantas menerima saya. Meskipun repot, tapi tes masuk itu juga konsekuensi yang harus ditanggung dari para pendidik yang lengah dan membiarkan peserta UN memakai kunci jawaban.

Farewell

hhh

Aku selalu berharap aku dan kau bisa bertemu lagi.

Jadi?

Perpisahan tanpa selamat tinggal?

Dasar tidak berperasaan.

Aku tidak menangis,

tidak.

Hanya memang sedikit sakit.

Setelah semua yang kulakukan selama ini,

jadi?

Semua ini sia-sia?

Percuma-kah selama ini rasaku untukmu?

Aku tahu,

aku tidak akan pernah bisa menembus logika-logika bodohmu itu,

meski diam-diam aku menghargainya.

Pengecut.

Kau berpura-pura aku bukan siapa-siapa,

berpisah tanpa sepatah kata,

meski kau juga merasakan sakit yang sama.

Selamat tinggal…