Category Archives: Life

Penyedot Pulsa

Suatu hari, Roy sedang sibuk bermain handphone untuk mengisi kebosanan. Ia sedang browsing di handphone-nya. Ia browsing segala macam hal, mulai dari browsing film-film kesukaannya dan browsing tentang band kesukaannya, Asking Alexandria. Roy memang fans berat hardcore. Sebenarnya pacar Roy, Sherina, kurang menyukai playlist lagu yang disimpan di HP Roy, karena playlist-nya berisi lagu-lagu hardcore. Sherina sendiri sebenarnya adalah penggemar lagu bergenre reggae. Hari ini Roy sama sekali tidak berniat menghubungi Sherina karena dia lagi-lagi bertengkar lagi dengan Roy masalah lagu hardcore. Maka dari itu, mumpung hari ini hari Minggu, Roy menyibukkan dirinya dengan bermalas-malasan dan bermain HP. Roy tidak mencoba mengecek pulsa yang tersisa di HP-nya dan dia tidak menggunakan paket internet, sehingga dia browsing dengan pulsa normal. Tadi pagi dia baru saja mengisi pulsanya di counter.

“Roy!” teriak ibu Roy dari dapur, “ayo sini bantu ibu!” Roy yang sedang enak-enak main HP pun dengan malas-malasan pergi ke dapur dan membantu ibunya memotong bawang merah. Setelah membantu ibunya, Roy kembali ke kamarnya dan bermain HP. Roy lalu browsing kembali di HP-nya. Riwayat browsing-nya sudah terhapus semuanya dari handphone karena Roy memiliki kebiasaan menghapus riwayat browsingnya setiap habis browsing. Tapi Roy tidak bisa melakukan browsing, karena pulsa HP Roy sudah habis. Tetapi Roy sama sekali tidak ingat kalau tadi sebelum ia membantu ibunya di dapur, ia sudah browsing dengan pulsa normal, yang bisa saja dapat menghabiskan pulsanya dalam waktu sekejap.

“Lho? Kenapa gak bisa buat browsing?” gumam Roy. Roy lalu mengecek saldo pulsanya, dan ternyata pulsa Roy hanya tersisa Rp. 6.

“Hah, kenapa pulsanya habis? Aneh, jangan-jangan ada yang nyolong pulsaku nih…” Padahal Roy sendiri yang nyolong pulsa HP-nya.

Lebaran dan Sepeda Motor

Motorcycle---Cartoon-2

Kemarin, Mamat memutuskan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan bersama temannya, Dodot. Kebetulan saat itu Dodot yang menjadi pengatur jalannya Idul Fitri di lapangan tersebut. Ketika ia masuk ke lapangan tempat diselenggarakannya shalat Idul Fitri, Mamat langsung terheran-heran. Semua orang di tempat itu tidak menggunakan sajadah untuk sembahyang. Khutbah yang dilakukan pada saat Idul Fitri pun tidak memakai microphone. Maka Mamat bertanya kepada Dodot.

“Dot, kenapa semua orang di sini sembahyangnya di atas tanah, bukannya di atas sajadah?” tanya Mamat.

“Yaa, karena di zaman Nabi Muhammad dulu, umat muslim memang sembahyangnya di atas tanah, bukannya di atas sajadah.” jawab Dodot.

“Terus kenapa khutbah-nya tidak pakai microphone?”

“Ya, karena di zaman Nabi Muhammad dulu, khutbah Idul Fitri-nya tidak memakai pengeras suara.”

Sepulang dari shalat Idul Fitri, Mamat melihat Dodot pulang ke rumahnya dengan sepeda motor. Dalam hati Mamat menggumam, “Kenapa Dodot enggak sekalian pakai unta saja kalau mau pulang…”

Protected: Liburan Kenaikan Kelas 2013

This content is password protected. To view it please enter your password below:

SKP

Sumber: theblacksphere.net

Sumber: theblacksphere.net

SKP. Sudah kenyang, pulang.

Dulu, waktu saya masih kecil, orangtua saya suka mengajak saya dan saudara-saudara kandung saya ke acara pernikahan. Di sana, saya dan saudara-saudara suka bermain-main dan duduk diam mendengarkan percakapan orangtua kami dengan orangtua kedua mempelai yang sedang menikah.

Tapi ada masa dimana ayah saya tiba-tiba marah sekali. Suatu saat, saya, saudara-saudara saya, ibu, dan ayah saya sedang travelling di Malang. Kami memilih travelling ke Malang karena di sana kebetulan juga ada acara pernikahan teman ayah. Setelah puas travelling, mobil kami pun melaju menuju lokasi pernikahan teman ayah. Tapi entah kenapa saat itu ayah saya tiba-tiba marah sekali. Ayah melarang kami ikut ayah dan ibu ke acara pernikahan. Kami bertiga sangat bingung. Apalagi melihat ekspresi ayah marah-marah, membuat kami sedikit takut.

Ternyata ayah kami melarang kami mengikuti acara pernikahan karena ada teman ayah yang bilang kalo orangtua kami suka membawa kami bertiga ke acara kondangan supaya kami kenyang.

Kasar amat.

Ibu yang bilang ke kami tentang hal itu.

Akhirnya sejak saat itu kami bertiga tidak pernah mendatangi acara pernikahan lagi.

Kalaupun ibu mau ngajak anak-anak, pasti ibu pilih satu. Mungkin aku, mungkin kakak, mungkin dedek.

Sekarang kami bertiga udah besar-besar, jadinya kalo diajak ke acara kondangan gitu malah males semua haha.

Saya enggak tahu kenapa waktu itu ayah bisa marah banget. Kami sebenernya dulu juga engga tahu apa-apa, karena waktu itu kami masih kecil. Yang kami tahu dulu ‘kan cuma main-main, masalah makan atau enggak itu bukan masalah besar buat kami bertiga.

Emang yang namanya masalah makan itu masalah sensitif.

Waktu dulu saya masih mengaji, saya suka memperhatikan orang yang datang ke pengajian hanya untuk dapat makanan atau supaya dapat nasi kotak. Sering banget ketemu orang-orang yang seperti itu. Dulu saya pernah lihat ibu-ibu setengah baya yang wajahnya kayak orang Arab gitu lah sama anaknya yang cewek mereka udah dapat nasi kotak masing-masing satu sepulangnya dari pengajian namun si ibu ini minta satu nasi kotak lagi buat suaminya. Katanya suaminya belum dapat nasi kotak, kalo gak salah si ibu ini minta nasi kotak lagi karena suaminya udah pulang duluan dari pengajian. Tapi panitia pengajian enggak mau ngasih nasi kotaknya buat si ibu-ibu. ‘Kan bisa jadi suami si ibu ini ternyata engga datang ke pengajian, makanya panitia enggak mau kasih nasi kotaknya buat ibu-ibu tadi. Ibu-ibu tadi emang keliatan agresif banget waktu mau minta nasi kotaknya ke panitia, rada maksa-maksa gimana gitu. Di mata saya entah kenapa momen itu terlihat mengerikan banget.

Kado Ulang Tahun

       gift-package

     Ah, besok kau ulang tahun. Kau. Iya, kau yang lucu dan menggemaskan itu. Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. 2 hari? Yeah, kau pasti sedang sibuk menyusun novel debutmu. Kau, si calon penulis itu. Hm… Aku ingin sekali memberimu kado ulang tahun. Kau tahu, kau sama sekali tidak pernah memberiku kado ulang tahun. Setiap kali aku ulang tahun, kau hanya memberiku ucapan selamat ulang tahun yang datar dan itu menyebalkan sekali. Aku tahu, kau sebenarnya selalu ingin memberiku kado ulang tahun. Tapi kau selalu tidak pernah mau berbuat baik duluan. Baiklah. Kau memang rumit. Tapi aku mencintaimu. Sangat. Dan hari ini aku berniat mencari kado ulang tahun terbaik untukmu. Kau—si calon penulis itu. Sejak kecil kau sangat suka menulis. Kau ingin sekali menjadi penulis. Karenanya, aku akan membelikanmu kertas dan tinta. Aku membeli empat kodi kertas dan setengah lusin tinta. Aku lalu membawa pulang kadomu yang akan kuberikan padamu. Aku membayangkan reaksimu melihat kado yang kuberikan kepadamu. Kau pasti marah dan membuang kadoku di tengah hujan. Di tengah hujan? Ha, dramatis sekali. Kurasa aku takut membayangkan reaksimu. Kau tahu, kau selalu membuatku takut. Kau memang membingungkan.

***

Astaga, aku bangun kesiangan! Aku harus segera memberikan kado ulang tahun untuk Andre! Aku langsung mencuci wajahku, menyikat gigi, dan berganti pakaian. Aku lalu menyambar kado ulang tahun Andre yang belum sempat kubungkus. Aku benar-benar lupa untuk membungkus kado ulang tahun Andre. Aku melihat jam tanganku. Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Biasanya sih, jam segini Andre berada di kafe kesukaannya, kafe Red Heart. Pagi ini benar-benar mendung. Kebetulan rumahku dengan kafe tempat Andre biasa nongkrong sendirian dekat, jadi aku berjalan kaki. Tiba-tiba hujan turun. Deras sekali. Aku lupa membawa payung. Aku mendekap kado-kado untuk Andre dengan erat supaya tidak kehujanan. Sesampainya di kafe, aku melihat Andre. Dia sedang duduk di depan laptopnya. Tapi, tunggu… siapa itu? Siapa gadis yang duduk di sebelah Andre? Aku mencoba melihat gadis itu lebih dekat. Tapi aku tidak mengenali gadis itu.

“Sayang…” panggil gadis itu kepada Andre.

“Hm…” Andre menatap gadis itu dengan sayu. Mata Andre lalu kembali mengarah ke laptop. Kulihat gadis itu mencium pipi Andre. Dadaku sesak. Kenapa Andre  tidak pernah bilang kepadaku kalau dia sudah memiliki pacar? Air mataku menetes. Aku menggenggam kado ulang tahun Andre erat-erat, agar tidak terjatuh ke bawah. Hatiku pilu. Kenapa harus sesakit ini. Kenapa. Aku hanya ingin bilang kepadamu kalau kau berarti bagiku. Aku selalu yakin kalau aku juga berarti bagimu, meski kau tidak pernah mengungkapkannya. Aku suka kepadamu—dan segala perhatianmu padaku. Tapi, kenapa? Aku menghapus air mataku dan berbalik. Kau benar tentang aku, Dre. Aku memang gadis yang bodoh, yang selalu bergantung kepadamu, yang selalu membuatmu repot. Aku memang gadis yang hanya bisa menyusahkanmu saja. Mulai sekarang aku berjanji enggak akan ganggu kamu lagi, Dre.

 

 

Mencontek For Good

cheating-2

Awalnya saya pengen memberi judul artikel ini cheating for good. Tapi takutnya kalau saya beri judul demikian nanti artikel saya muncul di kolom pencarian Google dengan kata kunci ‘selingkuh’. Hehe. Yeah, cheating yang saya maksud adalah mencontek, bukan selingkuh ya. Soalnya kata cheating dalam bahasa Inggris kan memiliki dua makna ‘selingkuh’ dan ‘mencontek’. OK. Let us write this article. Actually, this article tidak bisa disebut artikel. Tapi juga tidak bisa disebut cerpen sih. Karena yang akan saya tulis di bawah ini adalah kisah nyata—bukan cerpen, bukan juga artikel. Lebih tepat disebut salah satu potongan diary anak ingusan bodoh bergigi tonggos. Jangan mikir ya kalau sayalah anak ingusan bodoh bergigi tonggos itu. Buahahahahahahahahaha.

Suatu hari, Alice pulang sekolah dengan wajah suntuk. Alice adalah gadis yang sering mendapat bully di sekolah karena memiliki gigi tonggos dan senang bersikap seperti alien. Dan ibu Alice, Vera, tahu betul tentang hal itu. Namun, sangat sulit menasihati Alice untuk menghilangkan kebiasaannya bersikap seperti alien. Alice membanting tasnya dan duduk dengan suntuk.

“Nak?” kata Vera menatap Alice yang tampak kesal dan langsung duduk di teras sepulang sekolah, “pulang sekolah kok enggak salaman dulu sama mama?”

“Alice kesel, Ma,” ujar Alice sambil merengut. Dia menyilangkan tangannya dan menautkan kedua alisnya.

“Kesel kenapa?” tanya Vera dengan sabar sembari duduk di samping Alice.

“Tadi pas ulangan matematika Alice dapat nilai 6,” jawab Alice.

“Kenapa nilaimu bisa jelek, Al? Trus?”

“Padahal Alice kemarin sudah belajar, tapi ulangannya susah-susah banget. Alice akhirnya dimarahin Bu Cindy karena Alice dapat nilai paling jelek pas ulangan matematika, sementara rata-rata temen-temen Alice dapat nilai 9. Padahal tadi anak-anak di kelas pada nyontek ke Febri semua. Alice sendiri yang enggak nyontek. Mama ‘kan pernah bilang, nyontek itu dosa. Lagipula kasihan Febri nilainya jadi jelek gara-gara nyontekin temen-temennya. Mama ‘kan pernah bilang Alice harus jujur kapanpun dan dimanapun Alice berada.”

“Kenapa kamu enggak nyontek juga, sih, Al?”balas Vera geram.  Hati Alice remuk.

PPDB!

ppdb

Kemarin adalah hari paling menyedihkan bagi saya. Kemarin, saya dinyatakan tidak bisa lolos seleksi masuk SMA 1 Malang—SMA impian saya. Seharian itu saya terus-terusan menangis dan mengurung diri di kamar. Keluar dari kamar pun hanya ketika saya mau shalat dan berbuka puasa. Ayah saya tampak marah ketika saya tidak lolos seleksi masuk SMA 1 Malang. Saya sebenarnya tidak lolos seleksi bukannya saya bodoh. Saya sebenarnya bisa lolos seleksi masuk SMA 1 Malang. Saya tidak lolos karena saya anak luar kota. Jadi begini, tahun ini PPDB (penerimaan peserta didik baru) di kota Malang menggunakan sistem rayon. Sistem rayon yaitu mengelompokkan beberapa sekolah dan menjadikannya beberapa rayon. SMA-SMA di Malang dikelompokkan menjadi 3 rayon. SMA 1 Malang berada di rayon 1 bersama SMA 8 Malang, SMA 9 Malang, dan SMA Widyagama. Sementara di rayon 2 ada SMA 3 Malang, SMA 6 Malang, dan SMA 10 Malang. Di rayon 3 ada SMA 2 Malang, SMA 4 Malang, SMA 5 Malang, dan SMA 7 Malang. Saya pilih rayon 1 karena di sana ada SMA impian saya, SMA 1 Malang. Kalau sewaktu-waktu saya enggak lolos masuk SMA 1 Malang, saya bisa masuk SMA 8 Malang—yang satu rayon dengan SMA 1. Tapi hasilnya saya tidak lolos di SMA 1 Malang dan SMA 8 Malang, saya malah masuk SMA 9 Malang. Saya masuk SMA 9 Malang karena pagu SMA 1 dan SMA 8 Malang yang menampung siswa luar kota Malang sudah penuh. Setiap SMA di Malang mengadakan prosentase 10% dari jumlah pagu bagi siswa luar kota. Di SMA 1 Malang pagunya adalah 286 siswa, berarti pagu siswa luar kota berjumlah 28 siswa. Saya bersaing dengan ratusan siswa luar kota yang mendaftar di SMA 1 Malang, dan hanya dipilih 28 siswa dari ratusan siswa tersebut. 28 siswa yang terpilih masuk SMA 1 Malang memiliki NA (nilai akhir) yang sangat tinggi, rata-rata nilai mereka 9. Jelas saja saya tidak lolos wong NA saya hanya 8.63. Yowes, aku rapopo. Tapi waktu ayah saya marah pas tahu saya enggak masuk SMA 1 dan SMA 8, ayah saya marah. Seharian saya nangis gara-gara ayah, saya merasa enggak bisa memenuhi keinginan ayah saya. Tapi mau bagaimana lagi, persaingan di Malang sangat ketat. Saya enggak tega banget waktu ayah saya ngomong sama saya tentang SMA mana yang mau saya masuki, SMA 9 Malang atau SMA Kabupaten (saya juga daftar ke salah satu sekolah di kabupaten saya dan saya diterima di sekolah tersebut). Waktu itu papa saya hampir nangis pas ngomong ke saya. Bayangin aja, awalnya saya mau masuk SMA kota favorit, sekarang malah turun kasta masuk sekolah kabupaten yang biasa-biasa saja. Ayah saya semacam sedih ketika impian saya harus musnah. Sebenarnya saya ingin sekolah di Malang supaya saya bisa ngekos. Saya ingin bisa jadi lebih mandiri. Di Malang ini ternyata pendaftarnya memang sangat banyak dan ada yang dari luar Jawa, seperti dari Kolaka, Papua, dan sebagainya. Sewaktu saya mendaftar di SMA 1 Malang, saya mendaftar di hari kedua, yaitu tanggal 2 Juli. Pendaftaran masuk SMA dibuka dari tanggal 1-3 Juli, sedangkan pengumuman penerimaan siswa baru pada tanggal 4 Juli. Sewaktu mendaftar, saya disuruh mengisi formulir khusus siswa dari luar kota. Lalu saya menyerahkan berkas-berkas ke panitia. Penyerahan berkas-berkasnya (berupa fotokopi SKHU dan rapor) harus mengantri karena ternyata banyak juga pendaftar yang datang dan akan menyerahkan berkas-berkas pendaftaran. Saya harus mengantri di bawah terop yang didirikan di lapangan SMAN 1 Malang bersama pendaftar-pendaftar lainnya. Setelah mengantri beberapa lama, nama saya pun dipanggil oleh panitia. Saya lalu duduk di depan meja panitia dan panitia yang mengurus berkas saya ini sangat menyebalkan. Saya disuruh membaca nilai-nilai rapot saya sementara mas panitia menulis nilai saya di laptop—seakan-akan saya enggak bisa angka atau enggak bisa baca nilai rapot saya sendiri. Lalu ketika saya membuat kesalahan ketika menulis angka rayon, mas panitia ini menatap rekannya di sebelahnya dengan tatapan yang seakan-akan mengatakan kepada rekannya tentang saya, ‘anak ini kok bodoh sekali ya, Bro’. Untungnya mas panitia menyediakan tipe-x untuk menghapus tulisan saya yang salah. Ketika saya mendaftar di SMA di kabupaten pada tanggal 3 Juli, saya panitianya juga nyebelin. Karena saya mendaftar di sekolah kabupaten yang biasa-biasa saja (atau mungkin sekolah yang ‘rendah’) dan saya berasal dari SMP terbaik di kabupaten Malang, panitia SMA kabupaten itu seakan-akan menganggap saya daftar di sana hanya sebagai pilihan kedua dan panitia berpikir saya akan cabut dari SMA kabupaten kalau saya keterima di SMA Malang. Apa emang semua panitia pendaftaran sekolah itu nyebelin ya. Haha.

Tentang Menjadi Cantik

Isn't she beautiful?

Sumber: deviantart.com—Isn’t she beautiful?

Saya sering dapat ejekan jelek. Sebenarnya enggak sering-sering sih. Cuma pernah. Tapi pernahnya berkali-kali (nah lo? HAHAHA) Sometimes saya pengen gitu jadi secantik Yoona SNSD. Atau secantik Chloe Moretz. Suatu hari teman saya pernah bilang kalo saya jelek dan akhirnya saya membeli semua produk kecantikan di supermarket. Saya memang menjadi lebih cantik sejak saat itu. Tapi karena saya enggak telaten belanja alat-alat kecantikan tiap bulan, akhirnya jeleknya balik lagi deh, hahaha.

Lupita Nyong'o, wanita berkulit hitam yang dinobatkan menjadi wanita tercantik oleh majalah People.

Lupita Nyong’o, wanita berkulit hitam yang dinobatkan menjadi wanita tercantik oleh majalah People.

Tapi setelah saya kenal Lupita Nyong’o, saya mulai berpikir kalau menjadi cantik itu tidak hanya semata-mata menjadi ‘cantik’. Lupita Nyong’o adalah aktris yang bermain di film 12 Years A Slave dan dia mendapatkan piala Oscar karena perannya dalam film tersebut. Wanita berusia 31 tahun ini dinobatkan menjadi wanita tercantik di dunia oleh majalah People. Saya awalnya merasa asing ketika mendengar nama Lupita Nyong’o. Ketika saya search nama Lupita Nyong’o di google, keluarlah gambar seorang wanita berkulit hitam. Saya awalnya berpikir, “Lupita ini cantiknya dari mana?” ketika saya melihat foto Lupita. Tapi setelah saya pikir-pikir saya terlalu rasis ketika berpikir demikian—majalah People tidak mengukur kecantikan seseorang dari penampilan. Lupita cantik karena dia cerdas. Dia aktris yang profesional, dia juga rendah hati. Tak pelak People menobatkannya sebagai wanita tercantik di dunia.

barbie

Ketika seseorang menjadi terlihat cantik karena make up berlebihan atau operasi plastik atau semacamnya… Itu bukanlah hakikat menjadi cantik yang sebenarnya. Girls, be proud of who you are!

Kakek Sakti

Ada seorang kakek sakti di kampung Ubur-Ubur Terbang. Kakek itu bisa berbicara dengan jin, menyembuhkan orang sakit, dan meramal masa depan. Minggu lalu si kakek berhasil menyembuhkan Mak Minah, penjual nasi berbadan seksi yang sakit karena diguna-guna. Ketika ada tuyul-tuyul yang mencuri uang penduduk kampung Ubur-Ubur Terbang beberapa tahun yang lalu, si kakek-lah yang mengusir tuyul-tuyul tersebut dari kampung. Si kakek juga pernah meramal masa depan Tarman, anak petani miskin yang kini telah menjadi bupati.

Di sebelah rumah si kakek sakti, tinggallah Haji Su’eb, seorang saudagar kayu. Hari ini dia akan menikahkan putrinya, Markonah, dengan Yakub, putra sahabatnya dari desa Kambing Laut. Pesta pernikahan yang akan diadakan di belakang rumah Haji Su’eb itu bertema pesta kebun. Istri Haji Su’eb, Wati, sedang sibuk di dapur menyediakan makanan untuk pesta pernikahan putrinya. Wati dibantu pelayan-pelayannya membawa nasi, sayur lontong, soto, bistik, ayam goreng, dan lodeh ke meja-meja yang telah tertata rapi mengelilingi halaman belakang rumah Haji Su’eb yang telah disulap menjadi kebun. Sementara Markonah sedang berdandan di kamarnya, dia berdandan secantik mungkin, memakai kebaya putih dan jarit batik kawung yang indah. Rambutnya yang panjang itu disanggul sedemikian rupa dan disematkanlah rangkaian bunga melati yang harum di helai rambutnya.

Kakek sakti melihat persiapan pesta pernikahan Markonah dari teras rumahnya, sambil menghisap rokok  kesukaannya. Dihisapnya rokoknya pelan-pelan dan nikmat. Mata si kakek menatap sayu teras rumah Haji Su’eb yang ramai karena banyak manusia berlalu-lalang membawa berbagai peralatan pesta.

“Mbah,” Haji Su’eb datang tiba-tiba sembari menepuk pundak kurus si kakek yang duduk termenung. Si kakek terlihat sedikit kaget.

“Oh! Duduk, Eb,” ajak si kakek. Haji Su’eb duduk di sebelah si kakek.

“Anu, Mbah, saya mau minta tolong ke sampeyan.” kata Haji Su’eb yang berbadan tambun itu, sembari menatap si kakek.

“Minta tolong apa, tho, Le?”

“Saya ini ‘kan mau ngadain acara hajatan Mbah. Markonah mintanya acara ini jadi pesta kebun. Nah, ‘kan kalo acaranya pesta kebun berarti saya enggak masang terop. Mbah, sampeyan ‘kan sakti. Hujannya jangan turun dulu sebelum acaranya Markonah selesai. Nanti kalo hujan bisa becek semua kebun saya, kasihan Markonah, Mbah. Nanti tamu-tamu undangannya kalau kehujanan bagaimana.” ujar Haji Su’eb sambil menatap langit yang mendung.

Sumber: panoramio.com

Si kakek tidak menjawab, ia hanya menghisap rokoknya pelan-pelan dan memalingkan wajah dari Haji Su’eb. Haji Su’eb menganggap tidak adanya jawaban dari si kakek sebagai jawaban ‘ya’. Maka Haji Su’eb pun berpamitan kepada si kakek dan meninggalkan si kakek sendirian di teras rumahnya. Satu jam kemudian, pesta pernikahan Markonah pun dimulai. Tamu-tamu undangan sudah berdatangan. Tapi tiba-tiba hujan turun. Di pesta kebun tersebut para undangan kebasahan terkena hujan. Sementara si kakek, yang berada di teras rumahnya, hanya duduk dan tidak bicara sepatah kata. Ia hanya diam dan menatap hujan yang turun.

Sumber: alisalamb.blogspot.com

Akhir-Akhir Ini…

cry

Akhir-akhir ini saya dapat banyak masalah dan itu berdampak pada produktivitas kepenulisan saya. Saya menjadi sering merasa malas dan kosong ketika akan menulis. Padahal proyek nulis saya untuk bulan ini masih banyak banget. Yeah, inilah derita saya sebagai penulis. Mungkin seharusnya saya lebih profesional. Tapi… ah. Saya memang  penulis yang tidak saya harapkan. Saya cenderung jadi ghost writer, bukannya jadi penulis dengan ide yang orisinal, padahal saya ingin sekali menulis dan menghasilkan karya yang orisinal. Sejujurnya saya menulis tanpa bakat. Kadang saya tidak memperhatikan hal-hal penting dalam menulis, suka serampangan kalau nulis tapi juga kadang perfeksionis gila-gilaan kalau nulis. Tapi, saya nulis artikel ini bukan untuk curhat tentang masalah-masalah yang saya alami dalam menulis.

Saya ingin curhat tentang masalah-masalah yang akhir-akhir ini menghampiri saya.

Jadi…

Pertama, saya mendapat masalah dengan adik saya. Meskipun saya dan adik saya sudah berbaikan, namun adik saya tampaknya masih sulit memaafkan perbuatan saya terhadap adik saya. Itu membuat saya patah hati—sebagai kakak. Seharusnya saya sebagai kakak bisa tegas menghadapi adik saya, karena dalam masalah ini tidak hanya saya seorang yang membuat masalah, tapi juga adik saya. Tapi saya tidak mau kasar-kasar kepada adik saya—takut membuatnya sakit hati. Jadi, saya biarkan saja saya sakit karena perbuatan adik saya.

Kedua, saya mendapat masalah dengan keluarga saya—lebih spesifiknya dengan sepupu-sepupu saya. Gara-gara masalah ini, saya merasa enggak enak kepada sepupu-sepupu saya. Sebenarnya saya juga enggak mau mengekspos lebih banyak masalah saya yang kedua ini, tapi akibat masalah ini sepupu-sepupu saya jadi gimana gitu ke saya. Memang salah saya sih. Sebenarnya enggak etis kalau saya curhat seperti ini di blog, tapi tangan saya terlanjur gatel pengen curhat, hehe.

Ketiga, saya mendapat masalah dengan dia. Masalahnya adalah saya dan dia harus berpisah. Tanpa selamat tinggal. Dan itu pahit sekali. Saya bikin satu puisi tentang perpisahan saya dengan dia di blog ini. Saya enggak berharap dia membaca puisi saya karena dia memang enggak bakal pernah membacanya. Ada gambar galaxy yang saya lampirkan di puisi itu karena galaxy selalu mengingatkan saya pada dia. Mungkin besok di SMA saya dan dia sudah enggak satu sekolah lagi seperti kemarin waktu SMP, meskipun mungkin saya selalu berharap dia kembali. Tapi saat ini saya berusaha keras melupakan dia. Lagipula, jika ini bukan perpisahan yang pahit, perpisahan ini pasti yang terbaik, meskipun selama ini saya sudah lama sekali bersama dengannya. Saya tahu berpisah memang yang terbaik. Kadang saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada laki-laki kesekian yang pernah mengisi hati saya ini, tapi dia tidak pernah mengijinkannya. Mungkin jika saya bilang selamat tinggal, itu justru melukai hatinya. Jadi saya hargai keputusan dia.

Sebenarnya, saya tidak suka curhat seperti ini di blog. Tapi saya jarang sekali curhat ke manusia. Saya cenderung lebih sering mendengarkan curhat orang lain. Saya kadang juga curhat sih ke orang-orang, tapi curhatnya itupun hanya lewat kalimat-kalimat yang sarkatis. Menurut saya curhat secara vulgar ke orang-orang tidak efektif meredam masalah dan justru menambah masalah. Jadi, saya lebih suka curhat di blog. Bagi saya, curhat lewat blog sudah cukup mengentengkan beban-beban saya dan alhamdulillah setelah curhat di sini masalah-masalah saya terasa lebih enteng dari sebelumnya. Baiklah, nulis artikelnya sampai sini saja. Kapan-kapan saya akan curhat lagi di blog ini, hehe. See you next article, daah!