Monthly Archives: June 2017

Tes Baru Untuk Mendeteksi Kanker Masih Dalam Tahap Riset

Hari ini aku pengen nge-share artikel tentang riset mengembangkan tes baru yang dapat mendeteksi kanker bahkan sebelum kanker itu menunjukkan gejalanya pada penderita. Menurutku kanker itu penyakit yang paling menyebalkan di dunia ini, meskipun sebenarnya di dunia ini juga ada lebih banyak penyakit lain yang lebih menyebalkan. Tapi kemungkinan penderita kanker untuk bisa survive itu sedikit banget. Memang ada orang yang bisa survive dari kanker, tapi ada lebih banyak lagi orang yang gak bisa survive dalam perjuangannya melawan kanker. Sampai pertengahan tahun 2017 ini aja, sudah ada 2 artis Indonesia yang meninggal karena kanker, yaitu Yana Zein yang berjuang melawan kanker payudara dan Julia Perez yang berjuang melawan kanker serviks. Mereka berdua sudah berjuang mati-matian melawan kanker sampai kehabisan banyak uang buat berobat ke luar negeri. Kematian mereka berdua tidak hanya membuat keluarga, sanak-saudara, dan orang-orang terdekat mereka bersedih, tetapi rakyat Indonesia pun ikut berduka. Seperti yang sudah aku tulis di awal-awal, aku mau nulis tentang riset menemukan tes baru yang dapat mendeteksi kanker sebelum penderita kanker tersebut menunjukkan gejala. Emang masih berupa riset sih, tapi melalui artikel ini semoga saja bisa menambah pengetahuan pembaca tentang tes yang digunakan untuk mendeteksi kanker. Artikel ini sebenarnya ditulis oleh blog interestingengineering.com dalam bahasa Inggris dan aku mau nulis versi bahasa Indonesia-nya. Artinya, aku yang nerjemahin artikel blog Interesting Engineering dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. I take full credit for this article, aku cuma pure nerjemahin sesuai versi aku, merangkum, dan menambah informasinya secara akurat. Ada beberapa bagian dari artikel asli yang aku rangkum atau bahkan sama sekali enggak aku sebutin di artikel versi aku. Selain itu, kebetulan di artikel ini akan ada banyak istilah atau kata-kata ilmiah yang mungkin asing didengar, sehingga aku akan menjelaskan arti istilah-istilah itu supaya lebih mudah dipahami oleh pembaca.  Artikel versi bahasa Inggris-nya ada di sini.

Jadi, sekarang para ahli sedang melakukan riset untuk mengembangkan tes baru yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker bahkan sebelum penderita kanker menunjukkan gejalanya. Tes ini dapat menjadi sangat bermanfaat untuk menyelamatkan banyak nyawa. Karena kanker bisa dideteksi dengan lebih dini dan dapat dilakukan penanganan yang lebih intensif untuk mencegah penyebaran sel kanker ke bagian tubuh lain. Pada umumnya, untuk mendeteksi kanker, penderita dapat melakukan tes darah. Semua sel dalam tubuh menghasilkan informasi melalui aliran darah saat melakukan sekresi, yaitu proses dimana sel-sel tubuh atau kelenjar mengeluarkan substansi kimiawi dalam bentuk lendir yang masih dapat digunakan untuk melakukan fungsi organisme atau untuk melakukan ekskresi. Sel kanker juga menghasilkan informasi dan ini dapat digunakan untuk melakukan diagnosis awal penderita kanker. Tes darah untuk menemukan informasi dalam sel ini dikenal dengan sebutan “men-sirkulasi DNA tumor”. Apa bedanya tumor dengan kanker? Tumor adalah sel yang abnormal dan terdiri dari dua jenis, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak adalah tumor yang tidak dapat menyebar ke jaringan tubuh lain, namun bisa tumbuh membengkak dan biasanya kalau sudah membesar masih bisa diangkat melalui prosedur operasi, sedangkan tumor ganas adalah tumor yang bisa menyebar dan merusak ke jaringan tubuh lain atau biasanya juga disebut kanker. Nah, kanker itu termasuk dalam tumor. Tes darah ini juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker bahkan bertahun-tahun sebelum kanker menunjukkan gejalanya pada penderita.

blood-test-e1496761958766

Tes darah. Sumber: Wikipedia

Tapi beberapa tipe kanker memang sulit dideteksi di stadium awal karena gejala yang ditunjukkan biasanya terlihat samar dan mirip-mirip dengan gejala dari berbagai jenis penyakit lainnya. Dr Bert Vogelstein, profesor onkologi dari Johns Hopkins School of Medicine mengatakan jika para dokter bisa mendeteksi kanker yang masih terlokalisasi atau sulit dideteksi karena berada dalam lokasi tertentu, maka mereka dapat mengurangi kematian akibat kanker sebanyak 90%.

Tes kanker yang baru ini menggunakan metode yang hampir sama dengan metode tes darah yang sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya. Dewasa ini, ahli onkologi menggunakan metode ini untuk memilih pengobatan yang cocok untuk orang-orang yang menderita kanker di stadium akhir. Tidak semua penderita kanker bisa diobati dengan jenis pengobatan tertentu, karena itulah ada banyak jenis pengobatan kanker. Informasi yang terdapat dalam sel kanker dapat digunakan untuk mengetahui jenis pengobatan apa yang paling cocok bagi penderita. Para ahli sedang mencoba untuk menjadikan hal tersebut dasar dalam tes baru untuk mendeteksi kanker, melalui riset. Riset ini didukung oleh perusahaan Amerika, Grail. Grail memperoleh dana sebesar 100 juta dolar dari Bill Gates, pendiri Microsoft dan bos Amazon, Jeff Bezos. Perusahaan ini menargetkan tahun 2019 sebagai waktu perilisan tes baru untuk mendeteksi kanker yang masih dalam tahap riset ini.

Diharapkan ke depannya, orang-orang dapat mengikuti tes ini sebagai bagian dari check-up rutin. Apabila hasil tes menunjukkan positif menderita kanker, maka penderita harus segera mendapatkan perawatan. Namun dikhawatirkan bila tes kanker yang dilakukan dapat mengeluarkan hasil yang keliru. Misalnya ada orang yang mengikuti tes kanker dan dia dinyatakan menderita kanker, padahal sebenarnya dia sama sekali tidak menderita kanker. Hasil tes kanker yang salah ini bisa diperoleh orang yang secara natural memiliki mutasi gen kanker dalam darahnya namun sebenarnya ia tidak menderita kanker.

First Post in 2017

19055267_871988229623657_6469446374411886453_o[1]

Kita gak bisa nebak masa depan. Tapi sesusah apapun hidup, kita tetap harus berjuang…

Hai! Jadi ini postingan pertamaku di blog untuk tahun 2017 setelah hiatus entah berapa lama. Alasanku untuk hiatus waktu yang cukup lama adalah karena aku sedang sibuk sekolah. Nilaiku sempat jelek banget karena terlalu sibuk ngeblog, yaudah akhirnya aku stop ngeblog dulu buat fokus belajar. Tahun ini aku udah lulus SMA dengan nilai yang lumayan lah. Dan hari ini, 13 Juni 2017 adalah hari pengumuman SBMPTN. Setelah berjuang menghadapi server web SBMPTN yang sempat macet, akhirnya aku bisa ngeliat di web SBMPTN kalo aku ketrima di prodi pilihan ketiga, tapi kayaknya nggak aku ambil. Soalnya aku gak begitu sreg kalo disuruh masuk di jurusan ini. Aku sebelumnya sudah ketrima di D4 Teknik Informatika di suatu politeknik negeri dan mungkin itu yang mau aku ambil. Dari dulu aku tuh udah ngebet banget masuk teknik karena bapak juga seorang insinyur. Menurutku jadi insinyur itu keren banget, dan aku nulis FTSL ITB di pilihan pertama dan teknik sipil UB di pilihan kedua waktu daftar SBMPTN tapi kayaknya otakku gak begitu memadai buat bisa masuk teknik sipil jadi aku akhirnya dapet pilihan ketiga. Sebenarnya sedih juga sih, karena sebelumnya udah keseringan bayangin kalo nantinya hidup di Asrama Bumi Ganesha tuh gimana, keseharian sebagai mahasiswi ITB, dan sebagainya. Tapi sayangnya impian itu gak bisa jadi kenyataan. Sebenarnya dilema juga sih, enaknya aku kuliah di politeknik selama 1 tahun sambil nunggu SBMPTN tahun depan apa tetep kuliah aja di politeknik selama 4 tahun sampe lulus. Kalo misal aku ketrima SBMPTN tahun depan dan politekniknya aku lepas, kasian ortu yang udah ngabisin banyak uang buat aku daftar kuliah. Tapi sebenarnya dari dulu aku pengen pengen pengen pengeeeeen banget bisa masuk ITB.

Aku belajar mati-matian selama SMA kelas 12 sampe gak tidur tiap malem tuh karena saking pengennya masuk ITB. Sampe akhirnya aku bisa dapet rank 2 paralel satu sekolahan waktu pengumuman UNBK tuh karena mimpi lamaku akan ITB yang sulit memudar. ITB bikin aku semangat banget belajar. Tapi sayang sih nilai UN matematikaku dapat jelek :’) Sejak dulu aku emang gak pernah pinter MTK. Aku paling gak bisa integral, diferensial, dan trigonometri yang rumusnya luar biasa banyak sampe gak muat di otakku. Mungkin aku gak cocok masuk teknik, tapi aku mau kerja keras meskipun gak pinter :’) Aku mau belajar matematika dari awal banget sampe bisa. Aku pengen jadi mahasiswi teknik sipil tapi apa daya. Tapi ya udahlah. Sebenernya aku mau ada rencana beli voucher Zenius buat ngejar SBMPTN tahun depan sambil tetep kuliah di politeknik. Tapi kayaknya itu mustahil untuk dilakukan. Dulu aku ingat, aku pernah daftar di sebuah SMA favorit di daerah tempat aku tinggal. Tapi aku gak ketrima dan mantanku ketrima :’) Terus tahun ini juga sama, aku dan mantanku sama-sama daftar ITB tapi aku gak ketrima dan dia ketrima :’) Apa Tuhan sebegitu cemburunya ketika melihatku masih kangen sama mantanku sampe masalah sekolah dan kuliah pun kita harus terpisahkan untuk selamanya :’) Atau mungkin aku emang bodoh banget sampe gak bisa ketrima di ITB :’) Mungkin aku suka terlalu terobsesi sama mantan makanya Tuhan cemburu. Beberapa jenis mantan emang susah dilupakan, tapi Tuhan jelas jauh lebih penting daripada mantan. Sebenernya aku udah gak suka lagi sih sama mantanku, tapi kadang aku masih pengen ngejar kepinterannya dia yang emang dari kecil udah pinter. Dia sering kujadiin motivasi biar semangat belajar karena dia pinter banget dan aku pengen banget bisa lebih pinter dari dia. Kadang aku mikir, aku pengen kuliah ke ITB tuh karena emang pengen kuliah ke sana atau cuma pengen ngejar mantan yang udah pasti ketrima di sana. Tapi ternyata nyari jawaban dari pertanyaan itu sulit juga. Harusnya jawabannya ada dalam diri aku sendiri, tapi nyarinya ternyata cukup susah.

Aku belajar banyak hal tentang mencintai diri sendiri selama hiatus ini. Mungkin gak seharusnya aku punya pacar setidaknya sampe lulus kuliah meskipun ibu mewanti-wanti agar aku langsung nikah setelah lulus kuliah. Tapi aku bener-bener gak cocok buat pacaran. Hahaha, kenapa tadi awalnya ngomongin SBMPTN sekarang malah ngomongin masalah mantan dan pacaran ya? Yaudah, aku pengen ngomongin hal lain aja. Jadi karena setelah ini aku akan kuliah di politeknik, aku khawatir sama schedule-nya yang padat banget dan aku kebetulan orang yang gampang capek. Katanya kuliah di politeknik tuh kayak sekolah dan ada kelas-kelasnya. Berangkat pagi jam 7, pulangnya sore kayak anak SMA. Jadwal kuliah full dari Senin-Jum’at. Apalagi rencananya aku juga mau ikut organisasi karena khawatir kalo gak ikut organisasi nantinya gak ada yang bisa ditulis di CV buat ngelamar kerja. Sebenarnya aku tuh gak suka keramaian. Jatohnya setengah hati juga ‘kan kalo mau ikut organisasi yang udah jelas rame karena banyak anggotanya. Dan kalo ikut rapat-rapat organisasi tuh aku suka capek. Tapi bapak bilang kalo emang serius pengen kuliah teknik harus mau ngorbanin waktu. Ya udah. Sebenernya aku seneng aja sih dikelilingin cowok-cowok di fakultas teknik daripada punya temen cewek karena jujur, aku suka gak nyambung kalo ngobrol sama cewek meskipun aku sendiri cewek. Aneh ya? Hehehehe. Moga-moga aja sih di politeknik nanti sesuai ekspektasi dan cowok-cowoknya baik-baik meskipun nantinya pasti dekil-dekil karena namanya juga fakultas teknik. Tapi jujur aku lebih suka cowok yang dekil tapi rajin kerja daripada cowok yang wangi dan pake pomade. Mereka keliatan lebih real aja sebagai cowok daripada yang pake pomade. Menurutku cowok yang pake pomade itu genit banget karena suka berdandan biar keliatan ganteng. Nah lho ngomongin cowok lagi ‘kan hahahaha. Yah semoga saja aku kuat dan survive waktu kuliah nanti. Aku juga bakalan ngekos, jadi nantinya bakal ngurus semuanya sendiri. Keliatannya berat sih karena harus jauh dari ortu, tapi harus dijalani karena dulu ortu dan kakakku waktu kuliah juga pernah ngekos. Yah harapannya bisa enjoy lah.

Bapak dan ibu sempet nangis denger aku lolos SBMPTN dan SB-UMPN. Padahal aku yang tahu pengumuman SBMPTN dan SB-UMPN lebih dulu aja gak nangis dan biasa aja. Tapi mereka berdua nangis waktu kubilangin kalo aku lolos dan aku langsung nangis di kamar mandi setelah ngeliat mereka nangis karena gak mau mereka tahu kalo aku sedih. Bapak dan ibu nangisnya bahagia karena pada akhirnya aku dapat kuliah setelah ditolak SNMPTN, sipenmaru Poltekkes, dan SPAN-PTKIN, tapi aku ngerasa aneh aja kenapa mereka berdua sampe bisa nangis padahal aku cuma dapat pilihan ketiga dan politeknik, bukannya ITB atau UB. Temen-temenku ada yang diterima di kedokteran, STAN, STIS, dkk. Aku cuma dapat politeknik dan pilihan ketiga, tapi mereka berdua sampe nangis kayak gitu. Aku jadi sedih banget sumpah dan ngerasa kasian sama mereka. Sebenernya gak ada hal yang bisa dibanggain dari aku buat ortuku, aku lebih sering nyusahin mereka dan aku suka ngehambur-hamburin uang mereka buat les dsb ketika uang itu seharusnya dibuat nabung, ngebangun usaha di masa depan dll dan kadang aku pengen mereka bisa ngepamerin prestasi anaknya ke orang-orang tapi aku gak punya prestasi apa-apa. Bapak dan ibu tuh emang orang-orang yang baik dan jelas mereka diciptakan untuk satu sama lain, tapi entah kenapa kok anaknya kayak gini.

Sumpah pengen nangis kalo udah ngomongin bapak dan ibu. Aku cuma ngerasa kurang aja, masih belum bisa ngebanggain mereka. Seandainya aku ketrima ITB, mereka pasti bangga, tapi aku belajar SBMPTN aja gak total karena masih suka bosen ngeliat materi SBMPTN yang susah-susah. Kukira dengan ngerjain 96 soal dari total 150 soal SBMPTN itu udah cukup buat nembus FTSL, ternyata hidup gak segampang itu. Emang waktu itu aku sombong banget sih. Kalo boleh jujur kalo dibandingin sama camaba-camaba ITB lainnya, usahaku tuh masih kurang banget. Aku cuma punya waktu 2 minggu buat belajar SBMPTN dan selama 2 minggu itu waktu yang kugunain buat bener-bener belajar SBMPTN cuma selama 5 hari karena aku terkena banyak godaan buat nonton boyband Korea di YouTube terutama BTS. Di satu sisi masih pengen ikut SBMPTN tahun depan, tapi di sisi lain aku gak pengen ngorbanin duitnya bapak Rp. 20jt yang udah dipake ngebayar UKT semester 1 & 2 di politeknik kalo misal aku ketrima SBMPTN tahun depan. Tapi di sisi yang lainnya lagi kalo misal aku ketrima ITB, sudah jelas bakal ketemu mantan. Dan Tuhan sepertinya gak suka banget kalo aku ketemu lagi sama mantan. Mungkin emang rejekiku gak ada di ITB. Mungkin aku harus mengubur impianku buat bisa kuliah di ITB. Tuhan bisa saja punya rencana yang lebih baik. Tapi tetep saja aku suka sama semua rencana-Nya Tuhan. Semua rencana-Nya Tuhan itu indah dan Dia lebih tahu apa yang terbaik buat aku. Jadi aku tetep mencoba bersyukur dan gak menyesali apa yang udah terjadi. Aku pengen belajar lebih giat lagi. Aku pengen banget mencoba untuk stop memakai smartphone meskipun kayaknya itu mustahil banget karena aku udah masuk taraf kecanduan gadget, yaah stop main gadget sih supaya bisa fokus belajar. Tapi aku bakal kerja keras…. kali ini bukan buat mantanku atau ITB, tapi cuma buat ortuku.

Aku bener-bener kasian sama mereka dan aku gak pengen ngeliat mereka susah gara-gara aku. Aku pengen lulus 4 tahun ke depan dengan nilai cum laude, terus ngelanjutin kuliah lagi selama setahun biar dapat gelar S1 dan lulus dengan nilai cum laude juga. Kalo bisa dapat beasiswa S2 ke luar negeri hahahaha. Emang ketinggian sih kalo mimpi, tapi daripada kebanyakan mimpi lebih baik langsung kerja keras buat mewujudkannya. Kalo dikasih kesempatan aku juga pengen ngelanjutin S3 terus dapet kerja yang bagus. Tapi pokoknya aku harus tetep usaha. Meskipun aku harus capek. Aku juga pengen gak setengah-setengah kalo nantinya emang harus ikut organisasi di tempat kuliah. Aku juga gak pengen jadi anak manja lagi karena setelah ini aku bakal ngekos sendiri dan harus mandiri tanpa bantuan ortu. Aku cuma pengen berubah jadi lebih baik, meskipun kadang impian gak sesuai kenyataan. Gak ada alasan untuk gak berubah. Semangat!!!! >//////////<