Pemerkosaan di India

stop_rape

Sumber: uncyclopedia.wikia.com

Aksi pemerkosaan wanita di India merupakan salah satu aksi pemerkosaan paling brutal di dunia. Kenapa saya katakan demikian? Kebanyakan kasus pemerkosaan di India dilakukan secara massal dan berujung oleh berbagai aktivitas kriminal seperti penculikan dan perampokan. Masih ingatkah Anda dengan kasus pemerkosaan massal di Delhi pada tahun 2012? Kasus yang mengerikan tersebut sampai sekarang masih menjadi perhatian banyak pihak. Kasus bermula ketika seorang gadis bernama Nirbhaya dan teman laki-lakinya pulang dari menonton film pada sore hari. Mereka menaiki bus yang telah dibajak pada perjalanan pulang dan mereka tidak menyadari bahwa bus tersebut telah dibajak. Nirbhaya lalu diperkosa oleh sekelompok pria, gadis malang itu dipukuli dan disiksa dengan brutal hingga gadis itu mengalami kerusakan otak dan pencernaan. Nirbhaya kemudian meninggal setelah menjalani perawatan medis di sebuah rumah sakit di Singapura tepat 13 hari setelah aksi pemerkosaan brutal yang dialaminya.

Kasus-kasus pemerkosaan di India masih sangat marak terjadi dan tidak hanya menimpa gadis-gadis remaja, namun juga balita-balita perempuan dan lansia. Seringkali kasus-kasus pemerkosaan di India juga melibatkan tindak-tindak kekerasan seperti pemukulan, penganiayaan, dan pembunuhan. Sebagian kecil penyebab masih maraknya kasus pemerkosaan di India adalah buruknya sistem penegakan hukum, kurangnya bantuan medis bagi para korban pemerkosaan, dan ketidak-becusan aparat keamanan (polisi) dalam menangani kasus. Mari kita bahas hal-hal tersebut dalam uraian berikut ini.

Polisi dan Mobil Polisi

Seorang gadis berusia 20 tahun pulang dari kantornya bersama 3 orang temannya. Gadis itu lalu tiba-tiba diculik oleh sekelompok laki-laki mabuk di dalam mobil dan gadis itu diperkosa. Beberapa hari kemudian, orang tua gadis itu dipanggil ke sebuah rumah sakit dan mereka diminta mengidentifikasi mayat putri mereka. Mayat gadis itu ditemukan dengan sangat mengenaskan. Terdapat luka paku di tubuh gadis itu, mata gadis itu diberi racun asam yang membakar mata gadis itu, dan di dalam tubuh gadis itu ditemukan plastik-plastik. Sebelumnya pihak keluarga gadis sudah menginformasikan kepada polisi tentang kasus penculikan gadis itu, namun polisi tidak berusaha maksimal dalam pencarian gadis itu dengan alasan mereka tidak memiliki mobil polisi untuk mencari pelaku penculikan si gadis. Polisi bahkan meminta keluarga si gadis untuk menyediakan kendaraan untuk mereka bila keluarga si gadis ingin si gadis segera ditemukan. Di sisi lain, seorang gadis diculik oleh beberapa preman dan diperkosa. Gadis itu ditemukan di sebuah daerah terpencil dan ia ditemani ibunya melapor ke polisi. Di kantor polisi, si gadis dan ibunya harus menunggu semalaman untuk mengisi data FIR (First Information Report). FIR adalah dokumen tertulis yang disediakan oleh kepolisian India, Bangladesh, dan Pakistan untuk mendata kasus. Namun pagi harinya, si gadis dan ibunya pulang tanpa data FIR. Pelaku pemerkosaan pun tidak ditangkap secepatnya oleh polisi. Si gadis dan ibunya tidak menyerah dan mendatangi kembali kantor polisi untuk mengisi data FIR supaya kasus pemerkosaan si gadis cepat diusut. Mereka lalu mengisi data FIR di kantor polisi, namun malamnya si gadis kembali diculik oleh para pemerkosa. Setelah diperkosa, gadis itu ditinggalkan di rel kereta api sendirian. Beberapa warga menemukan gadis itu dan menyelamatkan gadis itu. Keluarga si gadis yang menjadi korban pemerkosaan lalu kembali mendatangi kantor polisi untuk mengisi FIR bagi kasus pemerkosaan kedua yang dialami gadis itu, namun polisi lagi-lagi mempersulit upaya keluarga si gadis untuk mengisi FIR, bahkan polisi tidak mengisi FIR atas kasus pemerkosaan kedua yang dialami si gadis. Para preman yang memperkosa si gadis kemudian terus menerus memberikan teror kepada keluarga si gadis—membuat keluarga si gadis takut dan mereka memutuskan untuk pindah rumah. Para preman lalu membakar gadis itu hidup-hidup di rumah baru si gadis ketika gadis itu sedang sendiri di rumahnya. Selain itu, juga terjadi tindak pemerkosaan di kantor polisi India yang melibatkan empat pria dan satu wanita. Memang sungguh keji tindak pemerkosaan di India saat ini. Selain itu, ketidak becusan polisi membuat kasus pemerkosaan menjadi telat ditangani. Polisi cenderung mempersulit langkah korban pemerkosaan untuk meraih keadilan daripada memenuhi tugas mereka menangkap pelaku pemerkosaan.

Ketika Dokter Menolak Mengobati Pasien

Dokter bertugas untuk mengobati pasien. Namun, bagaimana jika dokter menolak pasien? Seorang gadis di India menjadi korban pemerkosaan dan dia mendatangi rumah sakit untuk mengobati luka hasil kekerasan seksual di tubuhnya dan mengidentifikasi luka sebagai bukti untuk diajukan di pengadilan. Namun dokter justru menolak untuk melayani gadis itu. Orang-orang di rumah sakit, termasuk dokter, perawat, pasien lain, dan satpam rumah sakit mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu dan mereka menanyai gadis itu beribu pertanyaan yang tidak bisa dijawab gadis itu tentang kronologi pemerkosaan yang dialaminya. Dokter menganggap gadis itu bukan pasiennya dan dokter mengabaikan keluhan korban pelecehan seksual. Dokter bahkan menakut-nakuti gadis itu dan mengatakan bahwa tes medis yang akan dilakukannya akan membuat gadis itu tidak bisa hamil. Dokter biasa melakukan tes 2 jari untuk mengetes keperawanan korban perkosaan. Tes ini pada umumnya justru menyakiti fisik dan mental korban perkosaan, sama saja dengan pemerkosaan dalam bentuk lain. Tes 2 jari adalah tes keperawanan dengan memasukkan dua jari tangan ke daerah kewanitaan korban perkosaan. Dokter—sama seperti polisi, juga sering tidak melakukan hal maksimal dalam memeriksa korban pemerkosaan. Misalnya, ketika ada gadis yang diperkosa, terdapat luka gigitan di wajah dan lengan gadis itu, namun dokter tidak menyertakan data luka gigit di berkas medis gadis tersebut dan hanya menuliskan adanya luka kecil di daerah vital. Juga, ketika ada gadis yang diperkosa dari belakang, dokter memeriksa si gadis dari depan dan menulis di berkas medis bahwa tidak ada luka apapun di bagian tubuh gadis itu, padahal jika dokter memeriksa si gadis dari belakang dokter mungkin bisa menemukan bukti luka. Ada beberapa alasan dibalik penolakan dokter untuk memeriksa dan mengobati korban perkosaan. Salah satunya, dokter takut dengan kemungkinan dirinya dituduh sebagai pelaku pemerkosaan terhadap gadis yang diperiksanya. Padahal, tugas dokter sudah jelas untuk memeriksa dan mengobati pasien yang sakit. Apapun resikonya, dokter harus mau mengobati orang sakit karena itulah tugas seorang dokter.

Ketika Pakaian Dalam Korban Pemerkosaan Jadi Tontonan di Pengadilan

20 tahun lalu, seorang wanita mengalami pemerkosaan saat ia sedang tertidur. Wanita itu lalu melapor ke polisi dan melakukan tes kesehatan untuk memenuhi berkas-berkas perkara hingga sampailah waktunya wanita itu pergi ke pengadilan untuk mengikuti proses pengadilan. Di pengadilan, wanita itu mendapati suatu peristiwa mengejutkan dimana wanita itu ditanyai oleh pengacara pertanyaan-pertanyaan yang tidak ‘sesuai’ (baca: senonoh), membuat wanita itu terkejut. Sampai saat ini kasus pemerkosaan wanita itu belum terselesaikan. Bayangkan, butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk mendapatkan keadilan. Sampai sekarang pula pelaku pemerkosaan wanita tersebut masih bisa bebas berkeliaran. Tidak sedikit korban pemerkosaan yang mengalami nasib yang sama dengan wanita tersebut di pengadilan. Bahkan ada yang lebih parah. Beberapa wanita ada yang harus menjawab pertanyaan yang sangat vulgar, ada yang mendeskripsikan pemerkosaan yang dialaminya, bahkan ada juga yang pakaian-pakaian dalamnya sewaktu mengalami perkosaan pun dipajang di meja hijau. Hal ini tentu membuat wanita itu sangat malu. Para pelaku pemerkosaan yang juga berada dalam sidang tertawa melihat pakaian-pakaian dalam wanita itu dan membuat wanita itu marah. Sang pengacara memegang dan menunjukkan pakaian dalam wanita itu di hadapan publik. Tentu hal ini sangat memalukan, bagai pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Itu adalah penghinaan yang sangat besar bagi wanita itu.

Luka Para Korban Pemerkosaan

Tingkah para pelaku pemerkosaan di India memang sangat sadis. Mereka tidak segan-segan membunuh para korban pemerkosaan dan melakukan penyiksaan yang sangat keji terhadap mereka. Mereka melakukan berbagai cara agar mereka bisa lari dari hukuman atas pemerkosaan yang mereka lakukan. Salah satunya, di India Utara, seorang gadis korban pemerkosaan dipotong lidahnya oleh para pelaku pemerkosaan supaya si gadis tidak bisa bersaksi atas pemerkosaan yang dialaminya. Para pelaku pemerkosaan pantas mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Namun penegakan hukum di India masih sangat lemah, para pelaku pemerkosaan masih bisa melarikan diri dari hukuman. Ada sebagian korban pemerkosaan yang harus merasakan penderitaan mental yang sangat panjang. Sudah cukup dengan adanya trauma akan pemerkosaan dan luka batin, ditambah dengan pengucilan pergaulan dari lingkungan masyarakat membuat korban pemerkosaan semakin menderita. Dalam hal ini bukannya pelaku pemerkosaan yang disalahkan, malah korban pemerkosaan yang mendapatkan hukuman yang kejam. Di India, tidak ada wanita yang diperkosa dalam keadaan memakai pakaian seksi dan ketat seperti di Indonesia. Sebagian besar wanita India memakai baju sari ketika diperkosa. Ada juga yang memakai salwar kurta ketika diperkosa. Para korban pemerkosaan harus berjuang keras ditengah caci maki lingkungan sosial. Selain itu, korban pemerkosaan juga harus bertahan dari teror para pelaku pemerkosa. Namun, terkadang, meski korban pemerkosaan sudah berusaha bertahan dari teror, namun ujung-ujungnya korban pemerkosaan juga dibunuh oleh pemerkosa. Betapa sadis tindak pemerkosaan di India. Di India, wanita di berbagai rentang usia rentan mengalami perkosaan, bahkan anak kecil dan lansia pun bisa mengalami pemerkosaan. Saya menaruh banyak rasa kasihan kepada korban pemerkosaan yang masih anak-anak karena mereka akan mengalami trauma yang sangat berat, tapi bukan berarti saya tidak menaruh kasihan terhadap korban pemerkosaan remaja maupun yang sudah lansia. Sebanyak 1 juta lebih kasus pemerkosaan di India ditunda di pengadilan, sehingga banyak korban pemerkosaan yang haus keadilan merasa percuma harus melayangkan gugatan ke pengadilan untuk menghukum pelaku pemerkosaan. Pun banyak korban pemerkosaan yang merasa kecewa. Para korban pemerkosaan yang seharusnya mendapat keadilan justru mendapatkan ketidak adilan. Sudah diperkosa, mendapatkan trauma mental dan fisik, mendapatkan teror dari pelaku pemerkosaan, mendapatkan pengucilan, mendapatkan ketidak adilan dalam kasus hukum, lalu apa lagi? Luka yang ditanggung para korban pemerkosaan begitu banyak, saya sendiri tidak bisa membayangkan betapa sakitnya menjadi korban pemerkosaan. Sebagian besar pemerkosaan di India terjadi di pedesaan. India adalah negara dengan tingkat pemerkosaan massal tertinggi. Namun para korban pemerkosaan—terutama yang sudah berkeluarga, selalu berusaha bangkit dari kasus perkosaan yang menimpa mereka berkat dorongan keluarga yang menyayangi mereka. Urmila Singh Bharti, salah seorang korban pemerkosaan, berhasil bangkit dari kasus perkosaan yang menimpanya berkat suaminya, Gopal. Gopal selalu membantu dan menyayangi Urmila meskipun saat-saat pasca kasus pemerkosaan Urmila adalah masa-masa terburuk dimana tidak ada orang yang mau berbicara dan berkunjung ke rumah mereka. Urmila berkata, “Seorang pria akan meninggalkan istrinya apabila istrinya mengalami pemerkosaan atau semacamnya, mereka akan berpikir seorang wanita tidak akan ada artinya jika dia sudah mengalami hal-hal semacam itu dan wanita itu hanya akan membawa aib bagi mereka. Mereka tidak berpikir bahwa mereka harus berdiri di samping istri mereka, menghibur mereka, dan membantu istri mereka mengirim pelaku pemerkosaan ke penjara. Tapi mereka tidak memikirkan hal itu. Mengapa? Karena mereka tidak bisa berpikir seperti itu.” Urmila tentunya sangat beruntung memiliki suami seperti Gopal yang senantiasa melindungi Urmila. Urmila sampai saat ini masih bertahan dan melewati masa-masa sulitnya berkat bantuan suaminya. Namun tidak sedikit juga yang sampai bunuh diri karena tidak tahan akan penderitaan yang dialaminya sebagai korban pemerkosaan.

Urmila

Urmila

Advertisements

2 Comments

  1. Posted September 11, 2014 at 3:22 pm | Permalink | Reply

    Boleh tau sumbernya dari mana saja?

DO COMMENT

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: