PPDB!

ppdb

Kemarin adalah hari paling menyedihkan bagi saya. Kemarin, saya dinyatakan tidak bisa lolos seleksi masuk SMA 1 Malang—SMA impian saya. Seharian itu saya terus-terusan menangis dan mengurung diri di kamar. Keluar dari kamar pun hanya ketika saya mau shalat dan berbuka puasa. Ayah saya tampak marah ketika saya tidak lolos seleksi masuk SMA 1 Malang. Saya sebenarnya tidak lolos seleksi bukannya saya bodoh. Saya sebenarnya bisa lolos seleksi masuk SMA 1 Malang. Saya tidak lolos karena saya anak luar kota. Jadi begini, tahun ini PPDB (penerimaan peserta didik baru) di kota Malang menggunakan sistem rayon. Sistem rayon yaitu mengelompokkan beberapa sekolah dan menjadikannya beberapa rayon. SMA-SMA di Malang dikelompokkan menjadi 3 rayon. SMA 1 Malang berada di rayon 1 bersama SMA 8 Malang, SMA 9 Malang, dan SMA Widyagama. Sementara di rayon 2 ada SMA 3 Malang, SMA 6 Malang, dan SMA 10 Malang. Di rayon 3 ada SMA 2 Malang, SMA 4 Malang, SMA 5 Malang, dan SMA 7 Malang. Saya pilih rayon 1 karena di sana ada SMA impian saya, SMA 1 Malang. Kalau sewaktu-waktu saya enggak lolos masuk SMA 1 Malang, saya bisa masuk SMA 8 Malang—yang satu rayon dengan SMA 1. Tapi hasilnya saya tidak lolos di SMA 1 Malang dan SMA 8 Malang, saya malah masuk SMA 9 Malang. Saya masuk SMA 9 Malang karena pagu SMA 1 dan SMA 8 Malang yang menampung siswa luar kota Malang sudah penuh. Setiap SMA di Malang mengadakan prosentase 10% dari jumlah pagu bagi siswa luar kota. Di SMA 1 Malang pagunya adalah 286 siswa, berarti pagu siswa luar kota berjumlah 28 siswa. Saya bersaing dengan ratusan siswa luar kota yang mendaftar di SMA 1 Malang, dan hanya dipilih 28 siswa dari ratusan siswa tersebut. 28 siswa yang terpilih masuk SMA 1 Malang memiliki NA (nilai akhir) yang sangat tinggi, rata-rata nilai mereka 9. Jelas saja saya tidak lolos wong NA saya hanya 8.63. Yowes, aku rapopo. Tapi waktu ayah saya marah pas tahu saya enggak masuk SMA 1 dan SMA 8, ayah saya marah. Seharian saya nangis gara-gara ayah, saya merasa enggak bisa memenuhi keinginan ayah saya. Tapi mau bagaimana lagi, persaingan di Malang sangat ketat. Saya enggak tega banget waktu ayah saya ngomong sama saya tentang SMA mana yang mau saya masuki, SMA 9 Malang atau SMA Kabupaten (saya juga daftar ke salah satu sekolah di kabupaten saya dan saya diterima di sekolah tersebut). Waktu itu papa saya hampir nangis pas ngomong ke saya. Bayangin aja, awalnya saya mau masuk SMA kota favorit, sekarang malah turun kasta masuk sekolah kabupaten yang biasa-biasa saja. Ayah saya semacam sedih ketika impian saya harus musnah. Sebenarnya saya ingin sekolah di Malang supaya saya bisa ngekos. Saya ingin bisa jadi lebih mandiri. Di Malang ini ternyata pendaftarnya memang sangat banyak dan ada yang dari luar Jawa, seperti dari Kolaka, Papua, dan sebagainya. Sewaktu saya mendaftar di SMA 1 Malang, saya mendaftar di hari kedua, yaitu tanggal 2 Juli. Pendaftaran masuk SMA dibuka dari tanggal 1-3 Juli, sedangkan pengumuman penerimaan siswa baru pada tanggal 4 Juli. Sewaktu mendaftar, saya disuruh mengisi formulir khusus siswa dari luar kota. Lalu saya menyerahkan berkas-berkas ke panitia. Penyerahan berkas-berkasnya (berupa fotokopi SKHU dan rapor) harus mengantri karena ternyata banyak juga pendaftar yang datang dan akan menyerahkan berkas-berkas pendaftaran. Saya harus mengantri di bawah terop yang didirikan di lapangan SMAN 1 Malang bersama pendaftar-pendaftar lainnya. Setelah mengantri beberapa lama, nama saya pun dipanggil oleh panitia. Saya lalu duduk di depan meja panitia dan panitia yang mengurus berkas saya ini sangat menyebalkan. Saya disuruh membaca nilai-nilai rapot saya sementara mas panitia menulis nilai saya di laptop—seakan-akan saya enggak bisa angka atau enggak bisa baca nilai rapot saya sendiri. Lalu ketika saya membuat kesalahan ketika menulis angka rayon, mas panitia ini menatap rekannya di sebelahnya dengan tatapan yang seakan-akan mengatakan kepada rekannya tentang saya, ‘anak ini kok bodoh sekali ya, Bro’. Untungnya mas panitia menyediakan tipe-x untuk menghapus tulisan saya yang salah. Ketika saya mendaftar di SMA di kabupaten pada tanggal 3 Juli, saya panitianya juga nyebelin. Karena saya mendaftar di sekolah kabupaten yang biasa-biasa saja (atau mungkin sekolah yang ‘rendah’) dan saya berasal dari SMP terbaik di kabupaten Malang, panitia SMA kabupaten itu seakan-akan menganggap saya daftar di sana hanya sebagai pilihan kedua dan panitia berpikir saya akan cabut dari SMA kabupaten kalau saya keterima di SMA Malang. Apa emang semua panitia pendaftaran sekolah itu nyebelin ya. Haha.

Advertisements

DO COMMENT

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: