Kakek Sakti

Ada seorang kakek sakti di kampung Ubur-Ubur Terbang. Kakek itu bisa berbicara dengan jin, menyembuhkan orang sakit, dan meramal masa depan. Minggu lalu si kakek berhasil menyembuhkan Mak Minah, penjual nasi berbadan seksi yang sakit karena diguna-guna. Ketika ada tuyul-tuyul yang mencuri uang penduduk kampung Ubur-Ubur Terbang beberapa tahun yang lalu, si kakek-lah yang mengusir tuyul-tuyul tersebut dari kampung. Si kakek juga pernah meramal masa depan Tarman, anak petani miskin yang kini telah menjadi bupati.

Di sebelah rumah si kakek sakti, tinggallah Haji Su’eb, seorang saudagar kayu. Hari ini dia akan menikahkan putrinya, Markonah, dengan Yakub, putra sahabatnya dari desa Kambing Laut. Pesta pernikahan yang akan diadakan di belakang rumah Haji Su’eb itu bertema pesta kebun. Istri Haji Su’eb, Wati, sedang sibuk di dapur menyediakan makanan untuk pesta pernikahan putrinya. Wati dibantu pelayan-pelayannya membawa nasi, sayur lontong, soto, bistik, ayam goreng, dan lodeh ke meja-meja yang telah tertata rapi mengelilingi halaman belakang rumah Haji Su’eb yang telah disulap menjadi kebun. Sementara Markonah sedang berdandan di kamarnya, dia berdandan secantik mungkin, memakai kebaya putih dan jarit batik kawung yang indah. Rambutnya yang panjang itu disanggul sedemikian rupa dan disematkanlah rangkaian bunga melati yang harum di helai rambutnya.

Kakek sakti melihat persiapan pesta pernikahan Markonah dari teras rumahnya, sambil menghisap rokok  kesukaannya. Dihisapnya rokoknya pelan-pelan dan nikmat. Mata si kakek menatap sayu teras rumah Haji Su’eb yang ramai karena banyak manusia berlalu-lalang membawa berbagai peralatan pesta.

“Mbah,” Haji Su’eb datang tiba-tiba sembari menepuk pundak kurus si kakek yang duduk termenung. Si kakek terlihat sedikit kaget.

“Oh! Duduk, Eb,” ajak si kakek. Haji Su’eb duduk di sebelah si kakek.

“Anu, Mbah, saya mau minta tolong ke sampeyan.” kata Haji Su’eb yang berbadan tambun itu, sembari menatap si kakek.

“Minta tolong apa, tho, Le?”

“Saya ini ‘kan mau ngadain acara hajatan Mbah. Markonah mintanya acara ini jadi pesta kebun. Nah, ‘kan kalo acaranya pesta kebun berarti saya enggak masang terop. Mbah, sampeyan ‘kan sakti. Hujannya jangan turun dulu sebelum acaranya Markonah selesai. Nanti kalo hujan bisa becek semua kebun saya, kasihan Markonah, Mbah. Nanti tamu-tamu undangannya kalau kehujanan bagaimana.” ujar Haji Su’eb sambil menatap langit yang mendung.

Sumber: panoramio.com

Si kakek tidak menjawab, ia hanya menghisap rokoknya pelan-pelan dan memalingkan wajah dari Haji Su’eb. Haji Su’eb menganggap tidak adanya jawaban dari si kakek sebagai jawaban ‘ya’. Maka Haji Su’eb pun berpamitan kepada si kakek dan meninggalkan si kakek sendirian di teras rumahnya. Satu jam kemudian, pesta pernikahan Markonah pun dimulai. Tamu-tamu undangan sudah berdatangan. Tapi tiba-tiba hujan turun. Di pesta kebun tersebut para undangan kebasahan terkena hujan. Sementara si kakek, yang berada di teras rumahnya, hanya duduk dan tidak bicara sepatah kata. Ia hanya diam dan menatap hujan yang turun.

Sumber: alisalamb.blogspot.com

Advertisements

DO COMMENT

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: