Pilpres dan Lingkungan

Aktivis Greenpeace mengantarkan Raung dan Umba ke Kantor Komisi Pemilihan Umum  untuk mendaftar menjadi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (27/4).

Raung dan Umba. Sumber: greenpeace.org

16 Mei lalu, seekor harimau dan seekor lumba-lumba datang mendaftarkan diri ke KPU sebagai pasangan capres-cawapres. Harimau dan lumba-lumba ini bernama Raung dan Umba. Mengutip dari tribunnews.com:

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Poros koalisi PDI Perjuangan dan poros koalisi Gerindra kalah cepat daftarkan calon presiden dan calon wakil presidennya ke Komisi Pemilihan Umum. Mereka didahului oleh pasangan Raung dan Umba sebagai capres dan cawapres.

Raung adalah harimau Sumatera, sedangkan Umba adalah lumba-lumba. Keduanya diantar aktivis Greenpeace mendatangi Gedung KPU, Jakarta, Jumat (16/5/2014), sekitar pukul 10.00 WIB untuk mendaftar sebagai capres dan cawapres.

“Kedua calon ini kita daftarkan sebagai duta lingkungan capres dan cawapres,” ujar Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Arifsyah Nasution kepada Komisioner KPU, Hadar Nafis Gumay, disaksikan wartawan saat pendaftaran pasangan.

Raung telah kehilangan keluarganya akibat kebakaran hutan, dan kehilangan lebih dari separuh habitatnya karena deforestasi. Adapun Umba terancam nyawanya, menyusul laut bersih hilang ditambah tailing dan buangan minyak kotor.

Arifsyah menjelaskan, pendaftaran Raung dan Umba karena belum ada satupun bakal capres dan cawapres berkomitmen pada perlindungan dan pemulihan lingkungan hidup Indonesia. Ini ironis karena lingkungan Indonesia rusak parah.

Greenpeace mendata hutan Indonesia hilang 15,8 persen juta hektar kurun 2002-2012. Puncaknya pada 2011-2012. Sementara laut Indonesia sejak April 2014 tercemar akibat buangan minyak kotor seperti di kawasan pesisir Bintan, Batam, Karimun dan Kepulauan Riau.

“Raung dan Umba melihat lingkungan hidup sebagai penyangga dasar kehidupan hayati termasuk manusia di dalamnya berada dalam keadaan krisis. Keduanya mendaftar capres dan cawapres, berjanji 100 persen komit terhadap lingkungan Indonesia,” terangnya.

Komisioner KPU, Hadar berjanji menyampikan visi dan misi lingkungan Indonesia kepada gabungan parpol pengusung bakal capres dan cawapres. “Berikan kami masukan apa yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan pilpres,” ujar Hadar.

Sementara itu, mengutip dari blog alamendah.org, berikut ini adalah visi misi Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK dalam misi pelestarian lingkungan:

Sumber: sahabatprabowo.wordpress.com

Sumber: sahabatprabowo.wordpress.com

1. Prabowo-Hatta

  • Memulai reboisasi 77 juta hektar hutan yang sudah rusak dengan sistem tumpang-sari penanaman bambu, jabon, sengon, sagu, bakau, dan tanaman lainnya serta konservasi aneka ragam hayati, hutan lindung, taman nasional, dan suaka alam.
  • Mencegah dan menindak tegas pelaku pencemaran lingkungan; dan melindungi keanekaragaman hayati dan flora serta fauna sebagai bagian dari aset bangsa.
  • Melaksanakan penanaman pohon penghasil kayu oleh rakyat, secara kolektif maupun individual dengan skala maksimal 5 hektar, didukung oleh pemberian insentif fiskal dan non-fiskal.
  • Mendorong semua usaha kehutanan dan produk turunannya mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan/hasil hutan lestari yang diterima oleh pasar global.
  • Mensyaratkan kontribusi pembangunan hutan kota pada lokasi kabupaten/kota yang ditentukan pemerintah bagi pemegang izin sewa pakai kawasan hutan untuk tujuan di luar pertanian dalam definisi luas.
  • Merehabilitasi daerah sungai dan sumber air.
  • Mendorong usaha batubara, nikel, tembaga, bauksit dan bijih besi menjadi pertambangan yang ramah lingkungan dan sosial.
  • Berperan aktif dalam upaya mengatasi perubahan iklim global, yang diseimbangkan dengan kondisi Indonesia.

2. Jokowi-JK

Sumber: jejakcandra.blogspot.com

Sumber: jejakcandra.blogspot.com

  • Reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya, memuat antara lain: pemberantasan tindakan penebangan liar, perikanan liar, dan penambangan liar; penegakan hukum lingkungan; dan menjamin kepastian hukum hak kepemilikan tanah, penyelesaian sengketa tanah dan menentang kriminalisasi penuntutan kembali hak tanah masyarakat.
  • Peningkatan peran global dengan 8 agenda aksi yang salah satunya mengangkat isu lingkungan yaitu: mengintensifkan kerjasama internasional dalam mengatasi masalah-masalah global yang mengancam umat manusia seperti penyakit menular, perubahan iklim, penyebaran senjata illegal, perdagangan manusia, kelangkaan air, ketahanan energi, dan penyebaran narkotika.
  • Berkomitmen melindungi dan memajukan hak-hak masyarakat adat. Poin ini dipertegas dengan 6 prioritas utama sebagi subpoinnya, diantaranya memastikan peraturan undang-undang yang mengakui, menghormati, melindungi, dan memajukan masyarakat adat; hak-hak masyarakat adat terhadap sumber-sumber agraria; dan memastikan bahwa undang-undang pertanahan akan sesuai dengan pengakuan hak masyarakat adat.
  • Penegakan hukum lingkunganyang diantaranya adalah: mencegah dan menindak tegas pelanggaran yang berkaitan dengan illegal logging, illegal fishing, dan illegal mining; menegakkan hukum lingkungan secara konsekuen tanpa pandang bulu dan tanpa kekhawatiran akan kehilangan investor; menetapkan kebijakan secara permanen, bahwa Negara ini berada pada titik kritis bahaya kemanusiaan yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan hidup; dan penyempurnaan UU Pokok Agraria.
  • Pembangunan ekonomi maritim,  dari 9 poin diantaranya: Pemberantasan illegal, unregulatedunreported fishing; mengurangi intensitas penangkapan di kawasan overfishing dan meningkatkan intensitas penangkapan di kawasan underfishing sesuai batas kelestarian, rehabilitasi kerusakan lingkungan pesisir dan lautan, peningkatan luas kawasan konservasi perairan sampai menjadi 17 juta hektar dalam lima tahun, dan bertambah 700 hektar.
  • Penguatan sektor kehutanan, dari 14 poin, diantaranya: pengawasan dan penegakan hukum yang lebih efektif terhadap pelaku illegal logging; pemeliharaan proses ekologi; pengawetan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; pencegahan kebakaran dan illegal logging, dan pelestarian hutan dan perlindungan 20,63 juta hektar sisa areal yang masih berhutan; serta perlindungan flora dan fauna yang terancam punah, khususnya yang tercatat dalam Appendix I CITES ada 86 jenis dan Appendix II 1549 jenis.

Menurut saya visi misi Jokowi-JK lebih konkrit dan bonafit daripada visi misi Prabowo-Hatta yang menurut saya sudah tidak relevan lagi dilakukan di masa sekarang, misalnya reboisasi dan merehabilitasi daerah sungai—itu adalah hal yang sudah mustahil sekali dan tidak efektif untuk dilakukan di masa sekarang. Visi misi Prabowo-Hatta tampak lebih cocok digunakan di masa Orde Baru daripada di masa setelah reformasi.

Advertisements

DO COMMENT

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: