Sebuah Penyesalan

m

Saya memutuskan untuk keluar dari dunia logika setelah saya mengetahui bahwa nilai-nilai pelajaran di sekolah tidak mempengaruhi kesuksesan di masa depan. Tetapi sekarang saya justru menyesali keputusan itu. Semua itu berawal ketika dua teman saya, M dan G, masuk ke dalam daftar anak-anak yang diramalkan akan meraih danem tertinggi se-kabupaten Malang di SMPN 4. Saya tidak terkejut, tapi sedikit kecewa. M dan G adalah teman-teman masa SD saya. Mereka berdua adalah anak-anak yang baik. Kami bertiga setelah lulus SD lalu bersekolah di SMPN 4 bersama-sama. SMPN 4 adalah SMP terfavorit se-kabupaten Malang. Saya, M, dan G adalah anak-anak yang pintar dari SD kami (SD kami adalah SD yang sangat biasa-biasa saja) sehingga  kami alhamdulillah bisa masuk SMPN 4 dengan mudah. Danem SD saya dan M sama, yaitu 28,35. Sedangkan danem SD G lebih tinggi dari M dan saya. Saya jujur merasa iri ketika kedua teman saya ini berhasil masuk daftar anak-anak yang diramalkan akan meraih danem tertinggi se-kabupaten Malang di SMPN 4. Kenapa? Karena saya merasa saya juga mampu masuk di dalam daftar itu. Semua orang memiliki potensi dan peluang yang sama. Tetapi mengapa? Mengapa saya tidak masuk daftar itu?

Banyak contoh tokoh dunia yang sukses tanpa mengandalkan gelar sarjana atau semacamnya. Saya membaca banyak artikel mengenai manusia yang sukses tanpa belajar ilmu pasti dan saya merasa saya juga bisa menjadi seperti mereka. Tapi saya salah. Saya bermimpi menjadi seorang penulis. Dan, seorang penulis tidak perlu belajar ilmu pasti. Tetapi, jika suatu hari saya gagal menjadi penulis lalu pengetahuan saya tentang ilmu pasti nol besar, mau jadi apa saya? Saya tidak mau hanya menjadi sampah masyarakat. Saya menyadari bahwa saya terlambat menyadari bahwa saya telah menjatuhkan pilihan yang salah, dan saya telah terlanjur membutakan diri akan buku-buku pelajaran dan menutup telinga akan apa yang guru-guru ajarkan di sekolah, sehingga nilai-nilai try out saya semuanya buruk—buruk sekali. Tapi tidak ada waktu untuk menyesali semua yang sudah berlalu. Semoga saya tidak melakukan kesalahan yang sama ini untuk kedua kalinya. Sekarang saya hanya bisa mendoakan agar teman-teman saya, M dan G bisa tembus juara danem se-kabupaten Malang, atau kalau bisa juara danem se-provinsi Jawa Timur. Aamiin, aamiin, aamiin 🙂

Advertisements

DO COMMENT

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: