Monthly Archives: January 2014

Manga, Berbahaya Atau Mendidik?

Sejak kecil saya suka baca manga alias komik Jepang. Kebetulan kakak perempuan saya adalah otaku alias penggemar berat manga, jadi saya suka meminjam dan membaca koleksi manga kakak saya. Dari sekian manga yang saya baca, manga favorit saya adalah Naruto, Detective Conan, Doraemon, dan Slam Dunk. Nah, suatu hari saya meminjam komik Shinchan milik teman saya yang ada label ‘rated 15+’-nya. Saat itu saya masih kelas 1 SMP. Tetapi saya tetap membaca komik itu karena penasaran kenapa komik itu dilabeli rated 15+. Akhirnya saya mengetahui kenapa komik itu dilabeli rated 15+, karena di dalam komik itu ada banyak gambar yang menunjukkan adegan tidak senonoh. Misalnya ketika ada adegan ayah dan ibu Shinchan yang akan melakukan (maaf) senggama dan bersembunyi di balik selimut ketika melihat Shinchan terbangun karena pada saat itu mereka sama sekali tidak memakai pakaian. Keesokan harinya saya memarahi teman saya yang memiliki komik Shinchan itu, saya menegurnya kenapa dia membeli komik itu padahal sudah jelas di komik itu tertera label ‘rated 15+’. Teman saya itu hanya nyengir sambil cekikikan. Saya heran bagaimana bisa teman saya itu mendapatkan komik Shinchan berlabel rated 15+ yang seharusnya tidak boleh dibeli anak-anak berusia 15 tahun kebawah.

abcd

Crayon Shinchan tampaknya memang bukan manga yang berbahaya namun diam-diam—saya rasa bukan  diam-diam lagi tapi secara buka-bukaan—menyelipkan unsur pornografi. Meskipun ada banyak komik Crayon Shinchan yang tidak dilabeli ‘rated 15+’, tapi tetap saja semua komik Shinchan itu porno karena tokoh utama komik itu sendiri, yaitu Shinchan, adalah bocah TK yang mesum dan suka gadis-gadis sexy, padahal rata-rata pembaca komik Crayon Shinchan adalah anak-anak yang masih dibawah umur. Selain komik Shinchan, masih banyak manga Jepang lainnya yang mengandung unsur pornografi, seperti Naruto, Bleach, One Piece, dsb. Namun, tidak hanya gambar-gambar cabul atau gambar tokoh-tokoh wanita berpakaian sexy saja yang diselipkan manga-manga Jepang. Saya juga menemukan banyak propaganda illuminati pada manga-manga seperti Naruto, Yu-Gi-Oh!, dan Kuroshitsuji. Pada manga-manga tersebut ditemukan banyak tanda mata satu, segitiga, simbol 666, pentagram, dan sebagainya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa illuminati adalah organisasi rahasia yang memiliki visi merusak moral umat manusia. Hal ini tentu akan membawa dampak buruk, terutama bagi generasi muda yang gemar membaca manga—seperti saya.

Ciel's eye on Kuroshitsuji

Ciel’s eye on Kuroshitsuji

Tetapi sebenarnya jika ditinjau lagi tidak semua manga Jepang itu berbahaya. Beberapa manga seperti Doraemon, Slam Dunk, Chibi Maruko Chan, dan Hai Miiko! dapat dikategorikan sebagai manga yang tidak berbahaya. Tetapi di sini saya akan mengakui satu hal yang tampaknya tidak sinkron dengan gagasan utama paragraf ini, yaitu meskipun saya pribadi meskipun tahu kalau manga Naruto bukan manga yang baik tapi saya masih suka baca Naruto, hihi. Kenapa? Karena saya suka banget ceritanya. Manga Naruto mengajarkan agar kita pantang menyerah dalam menghadapi situasi yang sulit dan selalu bekerja keras. Tapi saya selalu berusaha berhati-hati ketika membaca komik Naruto. Saya mengikuti prinsip jika saya melihat sesuatu yang baik namun tidak begitu baik, saya akan mengambil sisi baiknya dan membuang sisi buruknya. Books belong to their readers.  Setiap buku adalah milik pembacanya. Jika seorang pembaca buku bisa mengambil sisi baik dan membuang sisi buruk suatu hal, pembaca buku itu pasti mendapatkan keuntungan dari buku yang dibacanya, begitupula sebaliknya. So… berhati-hatilah dan membaca manga itu boleh, tapi jangan lupa untuk selalu mengambil sisi baik dan membuang sisi buruk yang ada di dalam manga yang kalian baca. What we read is who we are.

Advertisements

Mengapa Sekolah Harus Gratis? (Essay Abal)

c

Menurut kepercayaan yang penulis anut, Nabi Adam adalah manusia pertama di alam semesta. Nabi Adam diciptakan dari tanah dan lumpur oleh Allah SWT. Allah menciptakan Nabi Adam dan keturunannya (manusia) sebagai khalifah (penguasa) di bumi. Namun para malaikat yang menyaksikan penciptaan Adam khawatir jika nantinya manusia malah akan menciptakan kerusakan di bumi. Maka untuk menghilangkan keraguan para malaikat, Allah mendidik Adam dengan memberi tahu nama benda-benda langit. Allah lalu meminta para malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda langit. Para malaikat tidak mengetahui nama-nama benda langit. Allah kemudian meminta Adam untuk menyebutkan nama-nama benda langit. Dengan lancar Adam menyebutkan nama-nama benda langit dan sejak saat itu, para malaikat berhenti meragukan Adam.

Pendidikan adalah salah satu dasar kehidupan manusia. Setiap manusia berhak mendapat pendidikan yang layak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal dunia dan akhirat. Pada umumnya sekolah yang layak dan berfasilitas tinggi menarik biaya yang sangat tinggi. Namun menurut penulis, pendidikan yang layak tidak harus selalu berbiaya tinggi. Sebaiknya seluruh sekolah di Indonesia—bahkan kalau bisa di seluruh dunia digratiskan saja agar semua orang mampu mengenyam pendidikan yang layak. Allah saja tidak menyuruh Adam membayar atas ilmu pengetahuan yang diberikan-Nya kepada Adam (masih ingat cerita di paragraf pertama tentang ketika Allah memberi tahu Adam tentang nama-nama benda langit?), apalagi manusia. Pendidikan adalah hak dan kewajiban bagi seluruh manusia untuk memenuhi kodratnya sebagai khalifah. Apabila semua sekolah digratiskan maka dan semua orang menjadi bisa bersekolah. Tidak ada lagi orang miskin yang tidak bersekolah dan tidak ada lagi orang kaya yang bersekolah di sekolah mahal. Semua orang akan mendapatkan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang layak.