Charlie Chaplin: City Lights (Review)

42

Karena saya sedang lagi tidak ngapa-ngapain + bosan dan galau, akhirnya saya memutuskan untuk menulis review salah satu film karya Charlie Chaplin, berjudul City Lights. Film ini diluncurkan pada tahun 1931. Pada saat itu film-film bersuara sudah bermunculan, namun Chaplin masih dan ngotot membuat film bisu hingga tahun 1940 Chaplin membuat film bersuara pertamanya yang berjudul The Great Dictator.

Film City Lights mengisahkan The Tramp (Charlie Chaplin), seorang gelandangan bermartabat bangsawan yang bertemu dengan seorang pengusaha kaya (Harry Myers) yang berniat melakukan aksi bunuh diri. The Tramp segera menolong pengusaha kaya yang ternyata sedang mabuk itu. Pengusaha kaya itu kemudian mengajak The Tramp ke rumahnya. Pengusaha kaya itu  memberi The Tramp banyak uang dan mempersilahkan The Tramp tidur di rumahnya karena The Tramp berhasil menyelamatkan si pengusaha dari usaha bunuh dirinya. Namun keesokan harinya, The Tramp diusir dari rumah si pengusaha kaya karena pengusaha itu tidak mengenali The Tramp ketika si pengusaha kaya sedang tidak mabuk. The Tramp lalu bertemu dengan seorang gadis buta penjual bunga yang cantik (Virginia Cherrill). The Tramp jatuh cinta pada gadis itu.

Virginia Cherrill, the blind flower girl, she's pretty, isn't she?

The blind flower girl, she’s pretty, isn’t she?

Suatu saat, The Tramp bertemu lagi dengan si pengusaha kaya yang sedang mabuk di pinggir jalan. Pengusaha kaya itu mempersilahkan The Tramp tinggal lagi di rumahnya dan memberi The Tramp banyak uang. The Tramp lalu meminjam mobil si pengusaha kaya untuk menemui si gadis buta penjual bunga. Si gadis penjual bunga berpikir bahwa The Tramp adalah orang kaya karena dia mendengar deru dan suara pintu mobil ketika The Tramp menemuinya. Keesokan harinya, lagi-lagi The Tramp diusir karena si pengusaha kaya tidak mengenali The Tramp. Meskipun hidup menggelandang lagi, The Tramp tetap berusaha membantu si gadis penjual bunga mengoperasi matanya agar ia dapat melihat kembali. The Tramp lalu mencoba mengikuti pertandingan tinju bayaran. Adegan tinju bayaran ini adalah salah satu adegan paling terkenal di film City Lights, selain adegan ending yang begitu menyentuh dan mengharukan.

46

The Tramp lalu bertemu lagi dengan si pengusaha yang sedang mabuk di suatu tempat dan The Tramp dipersilahkan lagi untuk tinggal di rumah si pengusaha. Si pengusaha kaya memberi The Tramp uang yang sangat banyak. The Tramp memutuskan untuk memberikan uang-uang itu untuk si gadis penjual bunga. Ia lalu pergi ke rumah si gadis penjual bunga dan memberikan uang-uang itu kepadanya untuk membiayai operasi mata si gadis penjual bunga.  Namun, tiba-tiba The Tramp secara keliru dituduh sebagai pelaku perampokan di rumah si pengusaha kaya dan The Tramp terpaksa masuk jeruji besi. Beberapa bulan kemudian, The Tramp keluar dari penjara. Dia lalu berjalan keluar dengan pakaian compang-camping dan mencari si gadis penjual bunga ke tempat dia biasa menjual bunga. Namun The Tramp tidak menemukan si gadis. The Tramp lalu bertemu si gadis penjual bunga di sebuah toko bunga dan tentu saja—si gadis penjual bunga sudah mampu melihat. The Tramp sangat senang, namun si gadis penjual bunga tidak mengenali The Tramp. Si gadis penjual bunga baru mengenali The Tramp setelah si gadis menyentuh dan memegang tangan The Tramp ketika ia memberi sekeping koin dan bunga untuk The Tramp.

43

Foto di atas adalah scene ending City Lights, tampak wajah close-up The Tramp sedang tersenyum bahagia, namun dibalik ekspresi bahagia itu tersirat ekspresi takut—takut akan kenyataan bahwa si gadis telah mengetahui siapa sebenarnya si pria kaya yang selama ini menolongnya.

Film ini menyiratkan banyak makna tersembunyi, seperti tentang orang-orang baik yang selalu dituduh melakukan kesalahan dan tidak semua orang yang tampak buruk di luarnya juga berhati buruk. Meski City Lights tergolong film bisu namun terdapat beberapa efek suara di dalam film seperti pada adegan awal film City Lights dan adegan The Tramp tersedak peluit ketika makan di restoran. Film ini tetap lucu meski sudah 82 tahun dirilis. Film ini sangat menyentuh dan mengharukan. Tidak seperti film-film pada jaman sekarang yang begitu tidak bermutu, film City Lights mampu mengobati kehausan saya akan film-film bermutu yang tampaknya sudah mulai jarang bermunculan di layar kaca. Jempol untuk film City Lights!

Advertisements

DO COMMENT

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: