Monthly Archives: December 2013

Review: Fucking Amal (1998)

49

Sutradara: Lukas Moodysson

Skenario: Lukas Moodysson

Rilis: 23 Oktober 1998

Durasi: 89 menit

Pemeran:

1. Rebecka Liljeberg sebagai Agnes Ahlberg

2. Alexandra Dahlstrom sebagai Elin Olsson

3. Erica Carlson sebagai Jessica Olsson

4. Mathias Rust sebagai Johan Hulth

Iseng-iseng browsing film ‘The Kid’ karya Charlie Chaplin di Google, eh gak sengaja nemu ‘Daftar Film Yang Harus Anda Lihat Di Usia 14 Oleh BFI’, kebetulan film The Kid nyangkut di daftar yang dibuat oleh British Film Institute itu. Namun ada satu judul film yang menarik perhatian saya di dalam daftar itu, yaitu Fucking Amal. Fucking Amal adalah film bertema lesbian pertama di Swedia. Buru-buru saya download film Fucking Amal dari Youtube dan langsung nonton film yang meraih empat penghargaan Guldbagge Awards ini. Film ini bercerita tentang percintaan sesama jenis antara Agnes Ahlberg yang diperankan oleh Rebecka Liljeberg dan Elin Olsson yang diperankan oleh Alexandra Dahlstrom. Agnes, si gadis kuper yang tidak punya teman adalah dyke (lesbian)  yang jatuh cinta pada Elin, gadis ‘genit’ yang cantik dan populer di sekolah. Orangtua Agnes khawatir karena Agnes selalu sendirian dan tidak memiliki teman, maka orangtua Agnes memutuskan untuk membuat sebuah pesta ulang tahun Agnes yang ke-16 supaya Agnes bisa menjadi semakin dekat dengan teman-temannya. Agnes tentu saja tidak senang dengan keputusan orangtuanya, namun apa daya dia harus mau menuruti orangtuanya. Ketika hari-H pesta ulang tahun Agnes, Elin dan kakaknya, Jessica datang ke pesta ulang tahun Agnes, padahal mereka tidak diundang. Jessica lalu menantang Elin untuk mencium Agnes setelah Jessica dan Elin tahu bahwa Agnes adalah lesbian dari diari Agnes. Elin pun mencium Agnes dan Jessica dan Elin segera kabur dari pesta ulang tahun itu. Namun Elin merasa bersalah atas perbuatannya terhadap Agnes dan ingin meminta maaf kepada Agnes. Ia lalu pergi ke rumah Agnes dan meminta maaf kepada Agnes. Agnes dan Elin pun menjadi dekat setelah sebelumnya mereka tidak saling mengenal. Bagaimanakah kisah selanjutnya?

50

Tentu saja, karena film ini meraih banyak penghargaan dan mendapat banyak kritik positif, film ini pasti sangat bagus dan layak untuk ditonton. Akting Alexandra Dahlstrom dan Rebecka benar-benar berhasil mencuri perhatian saya, they’re so adorable. Sayangnya saya merasa seperti ada adegan-adegan yang dipotong-potong dalam film ini. Film ini menggambarkan kehidupan cinta para remaja yang penuh gejolak dan emosi. Film ini mengandung makna bahwa cinta tidak bisa hanya dilihat dari orientasi seksualnya. Cerita yang tidak biasa, akting Rebecka dan Alexandra yang sangat apik, klimaks yang menegangkan, ending yang manis dan memuaskan, film ini nyaris sempurna.

Advertisements

“Aku Melihat Tuhan Dalam Dirimu…”

47

Bagi para pecinta film Bollywood pasti pernah menonton film yang satu ini. Film ini berjudul Rab Ne Bana Di Jodi, yang artinya Jodoh Dari Tuhan. Film berdurasi 167 menit ini disutradarai oleh Aditya Chopra, putra sulung mendiang sutradara sekaligus pendiri rumah produksi Yash Raj Films, Yash Chopra. Film ini dibintangi oleh Shah Rukh Khan (SRK) yang berperan sebagai Surinder Sahni/Raj dan Anushka Sharma yang berperan sebagai Tania ‘Thaani’ Gupta.

Surinder Sahni adalah pegawai PLN yang sederhana dan pemalu. Ia jatuh cinta kepada Thaani, putri Profesor Gupta, ketika sedang berada di rumah Profesor Gupta untuk menyaksikan acara pernikahan Thaani dan calon suaminya. Namun semuanya berubah setelah Thaani mendapat kabar buruk bahwa rombongan mempelai pria yang akan datang ke rumah Thaani kecelakan dan sang mempelai pria meninggal dunia. Pada saat yang sama ayah Thaani terkena serangan jantung dan harus dibawa ke rumah sakit. Pada ujung kematiannya, Profesor Gupta memberi wasiat terakhir kepada Thaani untuk menikah dengan Surinder, karena Surinder adalah murid favorit sang profesor ketika di perguruan tinggi. Selain itu Surinder juga pria yang sopan, baik, dan pintar, makanya Profesor Gupta memilih Surinder untuk mendampingi Thaani. Akhirnya dengan berat hati Thaani pun menuruti wasiat ayahnya.

Thaani pun dibawa ke Amritsar untuk tinggal bersama Surinder setelah pernikahan dilangsungkan. Sejak kematian calon suami dan ayahnya serta pernikahannya dengan Surinder yang tidak bahagia, Thaani menjadi menutup hatinya untuk siapapun. Ia sudah tidak mampu lagi mencintai siapapun. Surinder, sebagai suami Thaani, selalu berusaha mengubah Thaani menjadi periang lagi seperti dulu, namun selalu gagal karena Thaani tak mampu ‘membaca’ cinta dan perhatian Surinder. Suatu saat, Surinder mencoba menyamar dengan identitas baru bernama Raj dan menjadi partner Thaani di kelas tari, karena Thaani sangat suka menari. Kehadiran Raj (Surinder) membuat Thaani yang awalnya muram menjadi ceria seperti dulu karena kepribadian Raj yang lucu. Thaani mulai menyadari bahwa dirinya menyukai Raj, namun ragu karena dia sudah bersuami. Pada akhir cerita, Thaani akhirnya menyadari bahwa cinta yang dia butuhkan adalah Surinder, suaminya.

Film ini sangat romantis dan mengharukan. Apalagi pas ending-nya.

48

Surinder dan Thaani berdansa di kontes Dancing Jodi.

Di backstage setelah Thaani dan Surinder selesai menari, Thaani bertanya kepada Surinder kenapa Surinder bisa begitu mencintai Thaani. Surinder menjawab pertanyaan Thaani dengan enteng, “Karena aku melihat Tuhan dalam dirimu. Aku bisa saja meninggalkan manusia… Tapi aku tidak bisa meninggalkan Tuhan.” Tidak semua orang bisa mempunyai cinta seperti Surinder dan Thaani adalah salah satu wanita paling beruntung di dunia yang berhasil mendapatkan cinta Surinder. Pada umumnya orang-orang mencintai karena ketampanan atau kecantikan pada seseorang, atau karena status sosial mereka. Tapi tidak untuk Surinder. Dia mencintai karena itulah yang dia rasakan. Dia mencintai dengan hati yang tulus. Cinta Surinder adalah cinta sejati. Bahkan menurut saya, kisah cinta di Rab Ne Bana Di Jodi jauh lebih bagus ketimbang kisah cinta di serial Twilight Saga yang cenderung kacangan dan tidak bermutu. Twilight Saga tidak menonjolkan makna cinta sebenarnya dan Rab Ne Bana Di Jodi mampu menunjukkan hal itu. Karenanya saya berani mengungkapkan bahwa Rab Ne Bana Di Jodi jauh lebih bagus dari Twilight—dari sisi tema dan amanat—tidak dari sisi ketampanan dan kecantikan para aktor dan aktrisnya. Selain itu, akting Anushka Sharma di film Rab Ne Bana Di Jodi sangat bagus, sangat menyentuh dan membuat saya ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi Thaani. Selain mengharukan, film RNBDJ juga mampu membuat saya tertawa sekaligus menangis di saat yang sama ketika melihat adegan Surinder bertarung melawan sumo untuk memenangkan tiket liburan ke Jepang. Yeah, intinya film ini sangat bagus dan this is the one you must watch!

Charlie Chaplin: City Lights (Review)

42

Karena saya sedang lagi tidak ngapa-ngapain + bosan dan galau, akhirnya saya memutuskan untuk menulis review salah satu film karya Charlie Chaplin, berjudul City Lights. Film ini diluncurkan pada tahun 1931. Pada saat itu film-film bersuara sudah bermunculan, namun Chaplin masih dan ngotot membuat film bisu hingga tahun 1940 Chaplin membuat film bersuara pertamanya yang berjudul The Great Dictator.

Film City Lights mengisahkan The Tramp (Charlie Chaplin), seorang gelandangan bermartabat bangsawan yang bertemu dengan seorang pengusaha kaya (Harry Myers) yang berniat melakukan aksi bunuh diri. The Tramp segera menolong pengusaha kaya yang ternyata sedang mabuk itu. Pengusaha kaya itu kemudian mengajak The Tramp ke rumahnya. Pengusaha kaya itu  memberi The Tramp banyak uang dan mempersilahkan The Tramp tidur di rumahnya karena The Tramp berhasil menyelamatkan si pengusaha dari usaha bunuh dirinya. Namun keesokan harinya, The Tramp diusir dari rumah si pengusaha kaya karena pengusaha itu tidak mengenali The Tramp ketika si pengusaha kaya sedang tidak mabuk. The Tramp lalu bertemu dengan seorang gadis buta penjual bunga yang cantik (Virginia Cherrill). The Tramp jatuh cinta pada gadis itu.

Virginia Cherrill, the blind flower girl, she's pretty, isn't she?

The blind flower girl, she’s pretty, isn’t she?

Suatu saat, The Tramp bertemu lagi dengan si pengusaha kaya yang sedang mabuk di pinggir jalan. Pengusaha kaya itu mempersilahkan The Tramp tinggal lagi di rumahnya dan memberi The Tramp banyak uang. The Tramp lalu meminjam mobil si pengusaha kaya untuk menemui si gadis buta penjual bunga. Si gadis penjual bunga berpikir bahwa The Tramp adalah orang kaya karena dia mendengar deru dan suara pintu mobil ketika The Tramp menemuinya. Keesokan harinya, lagi-lagi The Tramp diusir karena si pengusaha kaya tidak mengenali The Tramp. Meskipun hidup menggelandang lagi, The Tramp tetap berusaha membantu si gadis penjual bunga mengoperasi matanya agar ia dapat melihat kembali. The Tramp lalu mencoba mengikuti pertandingan tinju bayaran. Adegan tinju bayaran ini adalah salah satu adegan paling terkenal di film City Lights, selain adegan ending yang begitu menyentuh dan mengharukan.

46

The Tramp lalu bertemu lagi dengan si pengusaha yang sedang mabuk di suatu tempat dan The Tramp dipersilahkan lagi untuk tinggal di rumah si pengusaha. Si pengusaha kaya memberi The Tramp uang yang sangat banyak. The Tramp memutuskan untuk memberikan uang-uang itu untuk si gadis penjual bunga. Ia lalu pergi ke rumah si gadis penjual bunga dan memberikan uang-uang itu kepadanya untuk membiayai operasi mata si gadis penjual bunga.  Namun, tiba-tiba The Tramp secara keliru dituduh sebagai pelaku perampokan di rumah si pengusaha kaya dan The Tramp terpaksa masuk jeruji besi. Beberapa bulan kemudian, The Tramp keluar dari penjara. Dia lalu berjalan keluar dengan pakaian compang-camping dan mencari si gadis penjual bunga ke tempat dia biasa menjual bunga. Namun The Tramp tidak menemukan si gadis. The Tramp lalu bertemu si gadis penjual bunga di sebuah toko bunga dan tentu saja—si gadis penjual bunga sudah mampu melihat. The Tramp sangat senang, namun si gadis penjual bunga tidak mengenali The Tramp. Si gadis penjual bunga baru mengenali The Tramp setelah si gadis menyentuh dan memegang tangan The Tramp ketika ia memberi sekeping koin dan bunga untuk The Tramp.

43

Foto di atas adalah scene ending City Lights, tampak wajah close-up The Tramp sedang tersenyum bahagia, namun dibalik ekspresi bahagia itu tersirat ekspresi takut—takut akan kenyataan bahwa si gadis telah mengetahui siapa sebenarnya si pria kaya yang selama ini menolongnya.

Film ini menyiratkan banyak makna tersembunyi, seperti tentang orang-orang baik yang selalu dituduh melakukan kesalahan dan tidak semua orang yang tampak buruk di luarnya juga berhati buruk. Meski City Lights tergolong film bisu namun terdapat beberapa efek suara di dalam film seperti pada adegan awal film City Lights dan adegan The Tramp tersedak peluit ketika makan di restoran. Film ini tetap lucu meski sudah 82 tahun dirilis. Film ini sangat menyentuh dan mengharukan. Tidak seperti film-film pada jaman sekarang yang begitu tidak bermutu, film City Lights mampu mengobati kehausan saya akan film-film bermutu yang tampaknya sudah mulai jarang bermunculan di layar kaca. Jempol untuk film City Lights!